"Alat yang menggunakan sensor MQ-131 sebagai detektor kadar gas ozon itu berfungsi untuk memonitor tingkat polusi udara untuk mengetahui indeks polusi ozon di setiap kawasan," kata Fredy di Yogyakarta, Jumat.
Menurut dia, sensor itu akan bekerja jika mendapatkan rangsangan dari gas ozon, sehingga menyebabkan terjadinya perubahan tegangan dan hambatan di dalam sensor.
Selanjutnya tegangan itu akan menjadi masukan pada sistem yang telah terpogram dan ditampilkan ke LCD untuk mengetahui seberapa besar kadar gas dalam area lingkungan tersebut dengan satuan ppb.
"Sistem itu akan menyimpulkan kadar gas dalam kondisi normal atau bahaya. Jika sumber gas ozon menunjukan besaran 121-2000 ppb, maka LCD akan menampilkan kondisi 'bahaya'," katanya.
Ia mengatakan pada tahap pengujian dilakukan pengukuran kadar gas ozon di beberapa tempat, yakni dataran rendah dan dataran tinggi, seperti Yogyakarta, Tambi Wonosobo, dan Dieng.
"Satu kali percobaan diperlukan waktu sekitar 20 detik hingga penunjukan stabil atau berhenti bergerak, dan dari percobaan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin tinggi area suatu tempat maka semakin kecil kadar gas ozonnya," katanya. (*/DWA)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.