Manado (Antara Bali) - Pemerintah Kota Manado menyatakan sembilan orang meninggal dunia akibat bencana alam di 52 kelurahan, sementara sekitar 10.000 jiwa sejak tempat tinggalnya dilanda banjir dan tanah longsor, Sabtu (16/2), hingga Senin pagi masih mengungsi.

"Ini data resmi kami (Pemerintah Kota), sesuai dengan hari klarifikasi dan penghitungan terakhir hingga Minggu pukul 23.59 Wita," kata Wakil Wali Kota Manado Harley Mangindaan di Manado, Senin.

Mangindaan mengatakan berdasarkan penghitungan tersebut tercatat sekitar 4.500 rumah diterjang banjir dan tanah longsor, yakni 12 unit di antaranya hanyut dibawa air serta satu rumah ibadah rusak.

"Sekitar 10.000 jiwa mengungsi untuk sementara karena rumahnya dilanda banjir dan tanah longsor, tetapi ada yang sudah kembali ke rumah, saat air surut," katanya ketika memerinci jumlah korban pascabencana pada hari Sabtu (16/2) dan Minggu (17/2).

Mangindaan mengatakan bahwa secara resmi hingga Minggu malam sembilan warga meninggal dunia dalam bencana alam di Manado, lima  orang di Kecamatan Wanea, dua di Paal Dua, satu orang di Tikala, Singkil satu orang. Selain korban meninggal, ada juga yang masih dalam perawatan di rumah sakit kandou, Siloam, dan  Siti Maryam.

Kepala BPBD Manado Maximilian Tatahede mengatakan, di antara korban tersebut, ada yang sudah dimakamkan, warga Tikala, lainnya sedang disemayamkan untuk dimakamkan pada Senin (18/2) dan Selasa (19/2).

Tatahede menyebutkan nama para korban meninggal dunia akibat bencana di Manado, yakni Megy Riska Ruru (22) Gracia Gosal (3) Stefany Ribka  Gosal (10) Tingkulu Lingkungan VIII, Chales Tarore (28) Tingkulu Lingkungan V, Budi Santoso (40) Wale Alumbanua Paal Dua Lingkungan IX, dan Vicky Tatimu (16) Ranomut Lingkungan II.

Kemudian Ismail Pulumodojo (10) Paal IV Lingkungan VI, Tomy Maripi (28)  warga Karombasan Selatan yang meninggal akibat longsor di Citra Land wilayah Kabupaten Minahasa dan  Ridel Lintongan (4) Singkil I Lingkungan V. (*/T007)


Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026