Mereka antara lain menyuguhkan sejumlah nomor musik kontemporer menggunakan sejumlah alat seni modern dan tradisional, mainan anak, serta beberapa benda seperti sapu lidi dan balon.
Sejumlah nomor eksplorasi musik tersebut antara lain berjudul "Salon Plus-Plus", "Lakang Irama", "Wetu Budeg", "Gelembung Tawa", "Obat Kuat dan Geliat Sapu Lidi", serta "Hura-Hura Klenik".
Pemusik YCF yang tampil pada pergelaran bertajuk "Eksplorasi Bunyi sebagai Stimulus dalam Berkarya" itu, antara lain Herry, Putut, Chozin, Sekar, Raka, Seto, Aldi, Nike, Gembul, Dani, Adam, Islah, Bayu, Indra, Fierly, dan Nana.
Kalangan seniman, pemerhati, seni, dan budayawan khususnya di Magelang, dan sekitar Candi Borobudur menyaksikan pergelaran tersebut. Terlihat hadir antara lain musisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Memet Chairul Slamet, budayawan Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Magelang Sutanto Mendut, pelukis Borobudur Dedy Paw, dan Direktur Bentara Budaya Jakarta Hariyadi SN.
Pada pergelaran yang berlangsung hingga tengah malam itu, seniman petani Komunitas Lima Gunung turut menyuguhkan tarian "Kuda Lumping" dan "Topeng Ireng". (*/T007)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.