"Wiwitan" merupakan acara ritual ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah atas panen padi yang melimpah. Wiwitan selalu dilaksanakan masyarakat Nanggulan setiap akan memulai memanen padi.
"Wiwitan itu sebagai ucapan syukur atas hasil panen padi dan memohon izin kepada Tuhan supaya padi yang ditanam dapat dipetik serta membawa berkah bagi keluarga dengan istilah "mboyong dewi sri" (istilah Jawa)," kata sesupuh Tanjungharjo Amad Wiyadi di Kulon Progo, Rabu.
Ia mengatakan, 'ubo rampe' atau perlengkapan sesaji berupa nasi tumpeng, ingkung ayam kampung, bunga mawar, buah-buahan, sayur kluweh dengan harapan hasil panen semakin melimpah. Selain itu, petani selalu mendapat perlindungan dari Tuhan, dilimpahkan rejekinya dan selalu sehat.
"Sebagai petani, sepatutnya selalu mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rejeki dan nikmat yang diberikan Tuhan. Karena hasil panen yang melimpah ini, tidak luput dari berkah yang Tuhan Yang Maha Esa," kata dia.
Ketua Kelompok Tani Sumbermulyo Kemukus, Sakiman mengatakan esensi utama dari ritual wiwit ini adalah simbol dan semangat gotong-royong petani serta mengingatkan petani untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang diberikan yakni panen panen padi yang melimpah.
"Ini adalah warisan budaya dari nenek moyong yang harus dilestarikan. Karena wiwitan ini sebagai wujud rasa syukur petani atas berkah padi yang melimpah," katanya.(LHS)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.