"Jangan sampai di negeri sendiri, kita justru harganya dikalahkan oleh produk-produk dari China dan Malaysia," kata mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana itu, di Denpasar, Jumat.
Menurut dia, berbagai bentuk komitmen harus dipegang oleh usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Bali jika ingin benar-benar mampu bersaing dan kuat mempertahankan usahanya.
Untuk memberikan harga yang kompetitif, lanjut dia, para pengusaha di Bali sesungguhnya dari sisi permodalan sudah sangat banyak perbankan maupun lembaga keuangan yang dapat memberikan kredit, tinggal pintar-pintarnya mereka memanfaatkan.
"Bahkan generasi muda Bali juga telah dimentoring atau dibantu oleh BI Denpasar supaya bisa menjadi pengusaha. Harus diakui selama ini kualitas SDM menjadi salah satu kendala yang dihadapi dalam pengembangan UMKM maupun semangat kewirausahaan," ujarnya.
Ia menyarankan bahwa masyarakat Bali harus mengurangi impor dan memperbanyak ekspor jika ingin tangguh secara ekonomi.
"Selain dapat memberikan harga yang kompetitif, pengusaha UMKM pun harus komit dalam pemasarannya," ucapnya.
Ia menambahkan, butir penting pemasaran bukan hanya dalam bentuk mengiklankan, termasuk juga komitmen menjaga kualitas, serta tepat waktu untuk jangka waktu penyelesaian dan pengiriman.
Sementara itu Wakil Kepala Kantor Perwakilan Wilayah III BI Denpasar Gde Made Sadguna mengatakan penguatan UMKM di Bali sangat penting karena jenis usaha ini paling bertahan dari goncangan ekonomi.
"UMKM menjadi lebih kuat sebab biasanya tumbuh dari kecil sehingga telah melalui proses seleksi alam, berbeda halnya dengan pengusaha yang langsung bermodalkan besar. Cepat berkembang, kemungkinan jatuhnya pun cepat," ujarnya. (LHS)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.