Denpasar (Antara Bali) - Hasil budidaya terumbu karang yang dilakukan kelompok nelayan pesisir Desa Serangan Kota Denpasar mampu dijual menembus pasar ekspor.

"Teknik budidaya terumbu karang dengan cara transplantasi yang kami lakukan menarik pembeli luar negeri, sehingga dapat menembus pasar Eropa," kata Ketua Kelompok Nelayan Karya Segara Desa Serangan, Wayan Patut di Denpasar, Kamis.

Ia mengatakan, terumbu karang yang diekspor tidak langsung diambil dari dalam laut, melainkan dengan cara teknik budidaya.

Dikatakannya, terumbu karang sebenarnya dilindungi undang-undang terutama dalam hal perdagangan, karena menyangkut konservasi alam.   Namun dengan teknik budidaya karang transplantasi, para petani mencoba membudidayakan terumbu karang tersebut yang nantinya dapat dipanen dan dibuat stek baru untuk dikembangbiakkan serta dipasarkan ke pasar lokal maupun ekspor.

"Kami sejak beberapa tahun yang lalu sudah mulai melakukan kegiatan menanam ratusan stek terumbu karang untuk konservasi alam yang ada di wilayah perairan Serangan," ujar pria yang juga pelestari karang ini.

Di samping itu mereka juga melakukan pembudidayaan yang mencapai ratusan unit terumbu karang dengan sistem "raff ball" yang nantinya bisa di panen serta dijual oleh nelayan.

"Di samping menyelamatkan alam, juga disertai dengan manfaat ekonomis yang di dapat dari budidaya itu, sehingga para nelayan terpacu untuk membudidayakan serta merehabilitasi terumbu karang," kata Patut.

Ia menjelaskan, pihaknya membedakan terumbu karang observasi dengan terumbu karang budidaya yang bisa dijual, maka dilakukan pemantauan terhadap keberadaan serta upaya rehabilitasi terumbu karang tersebut.

"Selama ini kelompok kami sudah membudidayakan berbagai jenis terumbu karang dengan berbagai warna, antara lain coklat, hijau, kuning dan lainnya," ujar Patut.

Dia mengatakan, terumbu karang tersebut sudah diekspor ke beberapa negara, khususnya Amerika dan ada juga yang dijual di pasar lokal. Umumnya terumbu karang hasil budidaya digunakan sebagai hiasan utama dalam pembuatan akuarium laut maupun air tawar. (*)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026