Bandarlampung (Antara Bali) - Upacara Ngaben bagi sembilan korban kerusuhan antarwarga di Kabupaten Lampung Selatan diwarnai suasana haru dari pihak keluarga korban.

Sembilan jenazah warga asal Bali, korban bentrokan dengan warga beberapa desa dari Kalianda, Lampung Selatan, menjalani ritual Ngaben di krematorium Lempasing, Bandarlampung, Kamis.

Ngaben adalah upacara pembakaran jenazah atau kremasi umat Hindu asal Bali, merupakan suatu ritual yang dilaksanakan guna mengirim jenazah kepada kehidupan mendatang.

Jenazah diletakkan selayaknya sedang tidur, dan keluarga yang ditinggalkan akan senantiasa beranggapan sedang tertidur.

Pada upacara ini, keluarga korban yang meninggal berkumpul menyampaikan doa, agar korban bentrokan itu dapat menemukan jalan yang senang menuju surga.

Salah satu keluarga korban, Dwi Jati (50), saat ditemui di tempat kremasi Lempasing mengaku, telah merelakan kepergian sanak keluarganya itu. "Yah, mau bagaimana lagi, sudah takdirnya seperti itu, tak perlu disesali," ucapnya.

Ia menegaskan, tidak menyimpan dendam atas kematian kakaknya yang menjadi korban kerusuhan beberapa hari lalu di Desa Balinuraga, Kecamatan Waypanji, Lampung Selatan.

"Kami berharap Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) menerima arwah kakak saya, sehingga dia menemui jalan terbaik menuju surga," ujar dia.

Dalam upacara Ngaben yang dipimpin oleh Pinandita Jero Gede Bawati, sanak keluarga diperintahkan untuk mengelilingi sebanyak tiga kali di tempat pembakaran mayat sambil menggotong peti jenazah.

Kemudian, keluarga korban dan seluruh peziarah menengadahkan tangan seraya memejamkan mata dengan membaca mantra-mantra suci umat Hindu hingga jasad yang terbakar benar-benar menjadi abu.

Proses Ngaben sembilan jenazah korban bentrokan di Lampung Selatan ini dimulai pukul 07.15 WIB saat dilepas dari Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Lampung, dipimpin oleh dr Nyoman.

Jenazah dilepas oleh Direktur RSUDAM itu, lalu  diserahkan kepada keluarganya untuk dikremasi di Lempasing, Telukbetung Barat, Bandarlampung.

Selanjutnya, pemakaman secara adat Bali dipimpin oleh Kompol Ketut Sarageh, dengan pelaksanaannya sembilan jenazah terlebih dahulu dimandikan bersamaan dan dibakar secara bergantian sejak pukul 09.00 WIB diperkirakan hingga malam hari.(*/T007)



Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026