Depok (Antara Bali) - Peneliti Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Rizal Edy Halim mengatakan utang luar negeri Indonesia yang mencapai Rp1.975 triliun dan merupakan agregasi utang masa lalu ditambah pinjaman tahun ini masih wajar.
        
"Prospek ekonomi Indonesia yang terus berkilau dan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) yang terus meningkat sehingga jumlah utang masih wajar," kata Rizal di Depok, Minggu.
        
Menurut dia, kemampuan dan fundamental ekonomi Indonesia terus meningkat seiring dengan peningkatan postur anggaran.
        
Ekonomi Indonesia terus dipacu, percepatan pembangunan dan perluasan pertumbuhan atau yang sering disebut pertumbuhan dan pembangunan berkualitas, adil dan merata tercermin dalam kebijakan fiskal dan alokasi anggaran APBN  dalam tiga  tahun terakhir.

"Pembangunan harus terus digenjot di tengah ruang gerak fiskal terbatas walaupun terus ekspansi," ujarnya.
        
Dikatakannya, rasio utang LN terhadap PDB terus membaik sejak 2004 dan masih di bawah rata-rata rasio utang dari PDB negara-negara berkembang yang mencapai 33 persen.
        
"Konsensus internasional memberikan batasan "aman" bagi rasio utang terhadap PDB maksimal sebesar 60 persen," katanya.
        
Ia mengatakan pada satu sisi, utang merupakan momok bagi negara-negara dengan kedisiplinan fiskal rendah seperti di zona Eropa, di sisi lain utang merupakan indkator kekuatan ekonomi suatu negara (dengan asumsi disiplin fiskal yang tinggi).
        
Profil utang LN masih sangat terkontrol hingga saat ini, bahkan hingga tahun 2050 utang LN masih dalam pengendalian fiskal.(*/M038/T007)


Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026