Denpasar (Antara Bali) - Pengusaha konveksi di Bali sepi order, baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga usaha tersebut menghadapi ancaman kebangkrutan.

"Persaingan di pasar ekspor makin ketat, sedangkan di dalam negeri dibanjiri produk dari China," kata Made Sudiana, pengusaha konveksi di Denpasar, Senin.

Belum banyaknya pesanan dari luar negeri karena beberapa negara masih mengalami dampak dari krisis global. "Kalau pun ada pesanan, harga penawarannya sangat rendah," katanya.

Oleh sebab itu, dia tidak asal menerima pesanan dari luar negeri karena impor beberapa bahan baku nilainya masih tinggi.

Kepala Seksi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Putu Bagiada, menyebutkan bahwa selama periode Januari-Agustus 2012 nilai ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) melorot hingga 24,85 persen.

Perolehan devisa dari pakaian jadi hasil produksi masyarakat Bali selama Januari-Agustus 2012 bernilai 66,7 juta dolar AS atas pengapalan sebanyak 33,1 juta buah dari berbagai jenis dan ukuran. Angka itu lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 88,7 juta dolar AS.(*/T007)



: Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026