Pembacaan seruan damai itu dibacakan enam perwakilan keluarga dan korban selamat pada peringatan tujuh tahun peristiwa Bom Bali II, di Jimbaran, Kabupaten Badung, Senin.
"Kami menyatakan bahwa aksi terorisme tidak terkait dengan agama tertentu," kata Ni Luh Erniati, Ketua Paguyuban Istri Suami dan Anak (Isana) Dewata Korban Bom Bali II yang menjadi salah satu dari enam perwakilan yang membacakan seruan damai.
Selain itu, para korban menyerukan kepada setiap kelompok masyarakat yang hendak melakukan aksi teror untuk mengurungkan niat mengingat dampak negatif dari aksi yang tak berperikemanusiaan itu.
Salah seorang korban selamat, Kadek Ardani yang menjadi karyawan di Kafe Menega, Jimbaran, mengaku bahwa hingga saat ini dirinya masih merasakan trauma pascaperistiwa itu. Untuk menekan rasa trauma itu, dia kerap melakukan pertemuan dengan para keluarga dan korban selamat untuk berkumpul dan berbagi pengalaman hidup.
"Saya masih takut untuk kerja kalau di malam hari, makanya saya lebih memilih untuk kerja siang hari. Untuk meminimalkan trauma, saya biasanya berkumpul sebulan sekali dengan para korban lainnya," katanya.(DWA/IGT/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.