"Itu 'case' saja, bukan berarti sistem pendidikan yang salah, karena kalau sistem yang salah, berarti itu (tawuran) ada dimana-mana. Itu 'kan cuma di Jakarta, tapi di Tulungagung 'kan nggak ada. Di Jakarta pun tidak semua sekolah," katanya kepada ANTARA di Surabaya, Minggu.
Setelah meresmikan tiang pancang Gedung "Menara Sains" ITS Surabaya, ia menjelaskan pihaknya sejak tahun 2010 hingga saat ini memang sedang merumuskan pembenahan kurikulum untuk memperkuat pendidikan karakter dalam dunia pendidikan.
"Itu sudah kita lakukan sejak tahun 2010, tapi pembenahan masih sedang dirumuskan, karena itu saya tidak bisa mengatakan sekarang. Apakah nanti ada pendidikan Pancasila lagi, perumusan (pembenahan kurikulum) itu masih sedang dalam proses, tunggu saja," katanya.
Tentang kasus tawuran antarpelajar SMAN 6 dan SMAN 70 di Jakarta, mantan Rektor ITS Surabaya itu menyatakan kasus tawuran itu tidak berdiri sendiri, tapi melibatkan orang luar yang "memelihara" tawuran itu.
"Karena itu, saya sudah mengundang pihak sekolah dari SMAN 6 dan 70, OSIS, ikatan alumni, dan pihak terkait lainnya untuk memilih salah satu dari tiga opsi yakni dibiarkan terus dipelihara, dibiarkan untuk selesai secara alami, atau menghentikan dengan segala risiko," katanya.
Dalam pertemuan itu, katanya, ada kesepakatan untuk memilih opsi ketiga dengan menyerahkan pada proses hukum untuk memidanakan siapa yang bersalah hingga kemungkinan ada pejabat di sekolah itu yang perlu dicopot untuk mengakhiri tawuran itu.(*/M038/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.