Denpasar (Antara Bali) - Pemerintah Provinsi Bali mengalokasikan dana sebesar Rp2 miliar untuk merintis pengembangan pertanian terintegrasi pada sepuluh lokasi dalam tahun 2009.

"Pada masing-masing lokasi kami alokasikan Rp200 juta untuk pengembangan berbagai jenis komoditi unggulan," kata Kabag Publikasi dan Dokumentasi pada Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng SP MSI di Denpasar, Jumat.

Ia mengatakan, rintisan pertanian terintegrasi itu dilakukan baik pada lahan kering maupun basah dengan mengembangkan potensi unggulan sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.

"Lokasi pengembangan tersebut tersebar di delapan kabupaten dan satu kota di Bali, dengan harapan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani," ujar Ketut Teneng.

Ketut Teneng menambahkan, pertanian terintegrasi yang penangananya dilakukan secara terpadu antarinstansi teknis, akan kembali dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang.

Pada tahun 2010 kegiatan serupa akan dikembangkan pada 40 lokasi di Bali. Pada setiap lokasi kegiatan dikerahkan tenaga pendamping untuk mengajarkan pemanfaatan teknologi pertanian dalam memenuhi kebutuhan sendiri.

Lewat teknologi tepat guna, petani diharapkan mampu mengarah kemandirian, yakni membuat pupuk memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar lahan pertanian.

Demikian pula dalam bidang pemasaran dapat melakukannya secara bersama-sama lewat wadah koperasi, dengan harapan produksi yang dihasilkan laku dengan harga yang wajar, harap Ketut Teneng.

Koperasi Serba Usaha (KSU) Batari Tunas Mandiri Desa Susut, Kabupaten Bangli, merupakan salah satu yang sudah merintis pengembangan komoditi unggulan jeruk dan sayur-mayur dalam sistem pertanian terintegrasi.

Potensi lahan untuk mengembangkan komoditi unggulan tersebut mencapai 900 hektare, dan masing-masing petani menanam komoditi unggulan jeruk, ditambah dengan memelihara ternak sapi tiga hingga lima ekor per orang.

Dengan memelihara tiga hingga lima ekor sapi itu mampu memenuhi kebutuhan pupuk untuk menyuburkan tanaman jeruk.

Dengan demikian, para gilirannya mampu menghasil produksi pertanian yang ramah lingkungan di samping penggemukan ternak sapi, sehingga petani memperoleh penghasilan ganda, ucap Ketut Teneng. (*)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026