"Seperti kunjungan ke hutan di Tenganan yang dibatasi tidak boleh lebih dari 15 orang. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar hutan tidak rusak," katanya.
Direktur Yayasan Wisnu Made Suarnatha sekaligus sebagai pendamping dalam JED mengatakan, ekowisata harus membuat keuntungan lebih banyak pada masyarakat lokal karena selama ini pariwisata dikuasai pebisnis besar dan pemerintah kurang memfasilitasi.
Pemerintah lebih banyak memberikan ruang untuk investor sehingga potensi desa di Bali ini kurang terekspos," ujarnya.
Dia mengakui bahwa sampai saat ini, sejak JED dikembangkan, peminatnya memang sebagian besar wisatawan mancanegara, seperti dari Eropa, Jepang, Amerika Latin, Australia, dan Amerika Serikat.
Dengan perluasan JED ini, diharapkan ke depannya, akan terjadi pemerataan di sektor pariwisata dan masyarakat yang berhak mendapatkan keuntungan serta manfaat lebih besar karena merekalah yang selama ini mengelola dan memelihara daerahnya.
"Persoalan atau kendala bahasa tidak terlalu penting karena nantinya akan ada penerjemah. Yang terpenting adalah masyarakat memahami potensi desanya dan bagaimana menjualnya," kata dia.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.