Hal itu terungkap dalam seminar bertema "Bisnis UMKM Setelah dilanda Krisis" yang berlangsung di Denpasar, Rabu.
"Kami sebagai pengusaha kecil sangat membutuhkan kredit untuk pengembangan usaha. Untuk itu mohon diberi kemudahan dengan bunga rendah dan kebijakan perbankan yang berpihak pada pengusaha kecil," kata pengusaha perak asal Gianyar, Made Pandem.
Dikatakannya, kendala dirasakan pengusaha kecil karena pihak perbankan belum sepenuhnya percaya dengan usaha mereka sehingga upaya pengembangannya mengalami kendala seperti permodalan.
Dengan adanya KUR yang kini digulirkan empat bank yakni BRI, BNI, Mandiri dan BTN diharapkakan bisa semakin menjangkau lebih banyak lagi pengusaha mikro, kecil menengah di Bali.
Menurut dia perbankan hendaknya juga bisa membantu mengatasi persoalan keterbatasan bahan baku untuk usaha industri kecil.
"Kalau bisa kami tidak diberi pinjaman uang namun dicarikan bahan baku perak. Sebab selama ini harganya selalu dipermainkan para spekulan," ujar Pandem.
Masalah ketersediaan bahan baku kata dia sangat penting bagi pengusaha perak seperti dirinya karena kerap kali kewalahan ketika orderan banyak namun bahan baku tersedia justru minim dan sebaliknya.
Dalam seminar itu tampil sebagai pembicara yakni, Deputi Direktur Direktorat Kredit BPR UMKM dan Syariah BI, Meganingsih, Kepala PKBL PT Rajawali Nusantara Indonesia, Parwanto Purno Pimpinan Wilayah BNI 08 Denpasar, Suhendang Husni, Redaktur Eksekutif Majalah Trust, Budi Kusuman
Kalangan pelaku usaha mikro kecil umumnya berharap program KUR itu benar-benar bisa dilaksanakan.
Sementara itu Ketua Steering Committe SC, Hardy R. Hermawan, menjelaskan, seminar digelar di delapan kota besar yakni di Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar, Pekanbaru, Medan, Balikpapan dan Denpasar.
Sebagian besar peserta kata dia tertarik karena ada kredit hingga Rp5 juta yang tanpa agunan dan bunga 2 persen perbulan atau 24 persen pertahun.
"Bagi pengusaha UMKM yang tertarik mengajukan kredit bisa langsung eksekusi kita sediakan konter di lokasi seminar," ujar Hardy.
Dalam paper disampaikan Deputi Menteri Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha, Ikhwan Asrin, menyebutkan UMKM terbukti memberikan kontribusi yang signifikan terhadap ekonomi nasional.
Data BPS, 2009, jumlah UMKM sebanyak 51.257.537 uniy dengan nilai investasi Rp430,02 triliun 51,60 persen, penyerapan tenaga kerja 90.892.270 juta orang atau 97,04 persen, Produk Domestik Bruto Rp2.609,36 triliun atau 55,56 persen.
Sementara BNI sendiri pada tahun 2009-2010 memfoksukan pada pemberdayaan UMKM dengan target ekspansi 23 persen lebih tinggi dibanding rata-rata ekspansi perbankan lainnya di sektor UMKM yang sebesar 17 persen. (*)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.