Hal itu terungkap dalam "talk show" mengenai program Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) yang diprakarsai HU Patroli Post. Acara itu dipandu PK Yanes Setat (redaktur LKBN ANTARA) dan Ecy.
Selain masalah pendataan penduduk kurang mampu yang dinilai masih belum optimal, kesiapan dana dan tenaga kesehatan di tingkat puskesmas juga disebutkan belum cukup memadai.
Beberapa peserta kegiatan yang diwarnai perdebatan cukup seru itu, menyatakan keraguannya kalau puskesmas yang merupakan "barikade" terdepan mampu membuka praktik selama 24 jam dengan tenaga kesehatan yang memadai.
Menjawab itu, Kadiskes Sutedja berjanji dapat menyiagakan puskesmas selama 24 jam dengan kesiapan tenaga kesehatan yang dilakukan secara bergilir.
"Kami jamin, puskesmas se-Bali nantinya dapat beroperasi selama satu kali 24 jam," katanya, menandaskan.
Namun demikian, lanjut dia, khusus untuk tenaga dokter, tentu belum dapat disiagakan selama sehari penuh. Masalahnya, tenaga dokter selain jumlahnya masih cukup terbatas, juga diatur jam kerja sesuai ketentuan dinas.
"Berbeda jika jumlah dokter nantinya telah cukup memadai, tentu kami bisa menempatkan mereka untuk dapat siaga secara bergantian di ruang puskesmas yang ada," kata Sutedja, menjelaskan.
Hadir pada "talk show' sehari itu, tampak Asisten II Sekprov Bali Drs Ketut Widja yang didampingi Pemimpin Umum HU Patroli Post IGM Pujastana, perwakilan diskes dan rumah sakit se-Bali, pentolan LSM, pimpinan media massa dan pemerhati masalah kesehatan lainnya. (*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.