Denpasar (Antara Bali) - Pepohonan di daerah perbukitan tumbuh menghijau dengan latar belakangan perpaduan lembah, gunung, jurang dan hamparan lahan, sehingga menjadikan kawasan itu menarik dan mempesona.
Daerah perbukitan itu sekitar Banjar Gunung Sari, Desa Tegal Linggah, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali sekitar 80 km utara Denpasar, yang memiliki nilai sejarah bagi perkembangan agama Hindu dan Islam di Pulau Dewata.
Desa itu pula pernah disinggahi oleh Rsi Markandeya dari India sebelum meletakkan batu pertama pembangunan Pura Besakih, tempat suci umat Hindu yang megah dan kokoh di lereng kaki Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Bali timur.
Di sekitar hamparan lahan yang luas itu kini dibangun "Markandeya Yoga City", yakni pusat kegiatan yoga terbesar di kawasan Asia, tutur Ketua Yayasan Bali-India Dr Somvir yang merintis kegiatan itu.
Pria kelahiran India yang kini telah menjadi warga negara Indonesia itu sejak tahun 2010 mulai merintis pembangunan "Markandeya Yoga City" sekaligus mengembangkan aneka jenis tanaman obat-obatan, sebagai pengobatan alternatif.
Ke depan "Markandeya Yoga City" akan dikembangkan untuk mengelola kegiatan jenjang pendidikan sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah umum (SMU) bernuansa yoga.
Lembaga pendidikan itu menekankan keterampilan siswa untuk melakukan pengobatan tradisional "Ayurweda" dan keterpaduan pengobatan permanen dengan memanfaatkan aneka jenis tanaman yang tumbuh dalam lingkungan sekitarnya.
Semua aktivitas dalam kawasan itu menekankan kegiatan sosial untuk mengabdikan diri pada kepentingan sesama umat manusia. Dalam kawasan itu dikembangkan belasan jenis tanaman obat-obatan yang mempunyai khasiat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit.
Puluhan jenis tanaman obat-obatan itu secara khusus didatangkan dari India, di samping dari berbagai daerah di Indonesia yang sudah tertanam jumlahnya lebih dari 5.000 pohon.
Pengembangan aneka jenis tanaman obat-obatan itu dilakukan secara intensif, sekaligus sebagai proyek percontohan dengan harapan bisa ditiru masyarakat sekitarnya.
Jika tumbuhan obat-obatan itu sudah besar akan diolah menjadi obat dalam bentuk kapsul sehingga masyarakat dapat memanfaatkannya secara mudah. Pengembangan tanaman bernilai ekonomis tinggi itu akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat setempat, sekaligus mengatasi pemanasan global.
Pengembangan tanaman obat-obatan untuk penyembuhan berbagai penyakit mempunyai kaitan erat dengan kegiatan yoga, pemusatan pikiran dan olah pernafasan untuk kesehatan dan kedamaian.
Fungsi ganda
Dr Somvir menjelaskan, pengembangan tanaman aneka jenis obat-obatan terus diperluas dengan mendatangkan bibit dari sejumlah daerah di Indonesia, antara lain dari Nusa Tenggara Timur (NTT) maupun yang secara khusus didatangkan dari India.
Pengembangan tanaman obat-obatan itu ditata sedemikian rupa, sehingga menjadi sebuah kawasan hutan yang mampu memberikan fungsi ganda. Di sela-sela pepohonan itu dibangun fasilitas untuk menunjang kegiatan yoga.
Selain itu cocok untuk kegiatan wisata spiritual, mengingat wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali, ada diantaranya secara khusus untuk melakukan kegiatan yoga, ujar Dr Somvir yang juga guru yoga bagi turis di Bali.
Bahkan wisatawan asal Eropa, India, Rusia, Jerman, Jepang dan Amerika Serikat sangat tertarik untuk melakukan pemusatan pikiran dan mereka memilih tempat yang nyaman, aman dan damai jauh dari keramaian.
Wisatawan mancanegara yang menyenangi kegiatan spiritual itu hampir setiap tahun datang ke Bali untuk berwisata, namun kegiatan utamanya adalah meditasi, sambil menikmati keunikan seni budaya serta keindahan panorama alam Pulau Dewata.
Bahkan pelancong dari berbagai negara di belahan dunia itu ada yang tinggal di Bali hingga tiga bulan lamanya, khusus melakukan kegiatan yoga dan meditasi, sekaligus berwisata.
Hal itu tidak mengherankan menurut Somvir, Bali memiliki getaran vibrasi, sehingga wisman tertarik menikmatinya dengan mengikuti yoga. Lewat Yayasan Bali-India telah memberikan latihan khusus kepada pelancong yang dikemas sedemikian rupa.
Mereka aktif mengikuti latihan yoga sekitar dua minggu saat menikmati liburan di Bali dan umumnya mereka datang minimal sekali dalam setahun. Dengan demikian aktivitas yoga ke depan mampu menambah daya tarik, harap Somvir.
Menurut Prof dr I Gusti Ngurah Nala dari Program Studi Ayurweda Fakultas Kesehatan Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Indonesia memiliki sekitar 9.606 spesies tumbuhan-tumbuhan yang mengandung khasiat tinggi untuk pengadaan obat-obatan alami, yang telah terbukti mampu menyembuhkan berbagai jenis penyakit dan bebas dari efek sampingan.
Hutan tropis yang dimiliki Indonesia sekitar 120 juta hektare, di kawasan itu tumbuh spesies yang diketahui dan dipercaya mempunyai khasiat obat, meskipun selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Cahaya sinar matahari yang tersedia sepanjang tahun disertai curah hujan yang mencukupi memungkinkan tumbuhnya beraneka jenis tanaman obat-obatan berkembang biak dengan baik.
Dari ribuan jenis tanaman obat-obatan yang ada hingga saat ini belum ada hasil penelitian secara pasti berapa persen di antaranya sudah dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.(*/T007)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.