Denpasar (Antara Bali) - I Wayan Limbak, seniman kelahiran Bedulu, Gianyar, daerah "gudang seni" di Bali tahun 1930 an merintis pertunjukan bersama dengan Walter Spies, seorang turis dari Jerman di dekat objek wisata Goa Gajah, sekitar 35 km timur laut Denpasar.
Dialog interkultural dari dua seniman yang berbeda latar belakang seni, budaya dan etnis itu secara tidak sengaja melahirkan pertunjukan tari kecak, yang kini menjadi "maskot" tari Bali yang sangat monomental dan tersohor di mancanegara.
Lahirnya tari kecak itu dari ketidaksengajaan, karena kala itu sekitar 80 tahun silam perpaduan antara unsur seni barat dan timur belum terpikirkan seperti halnya era globalisasi sekarang ini, tutur I Kadek Suartaya SS Kar MSi, dosen senior Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Perpaduan dua unsur seni yang kini populer disebut kolaborasi seni itu mampu membangkitkan seniman dalam menggarap karya seni bermutu dengan penuh kegairahan, yang masing-masing saling melengkapi dan mengisi, sehingga menjadi sebuah pementasan bermutu dan unik.
Oleh sebab itu kolaborasi seni bukanlah sesuatu yang asing bagi seniman Bali, karena sudah terbiasa dilakukan sejak dulu. Masalahnya seniman Pulau Dewata baik yang menekuni bidang tabuh dan tari Bali zaman dulu tidak seberani seniman sekarang dalam memadukan dua unsur seni yang berbeda.
Kadek Suartaya, seniman serba bisa yang sering memperkuat tim kesenian Bali mengadakan pementasan ke mancanegara itu menambahkan, seniman sekarang mempunyai keberanian dalam memasukkan unsur-unsur seni saat melakukan kolaborasi dengan seniman barat.
Seni yang berangkat dari unsur tradisi itu akan tetap mewarnai kolaborasi seperti yang selama ini banyak dilakukan seniman mancanegara dengan seniman-seniman Pulau Dewata.
Dialog estetik
Kemajuan teknologi dan media komunikasi yang sangat pesat dalam beberapa tahun belakangan ini mempersempit jarak geografi dan budaya penghuni jagat raya.
Fenomena multi kulturalisme yang tak terelakan mengiringi munculnya kontak-kontak budaya dan dialog estetik yang lebih serasi seperti yang sering dilakukan di berbagai tempat di Bali, melibatkan seninam barat dan timur.
Bahkan Kolaborasi seni kini menjadi model kreativitas seni yang banyak digalang antarseniman mancanegara, sekaligus merupakan kerja sama antarseniman lokal, regional, nasional maupun internasional.
Pluralitas seni budaya Indonesia, khususnya Bali sangat memungkinkan untuk dijadikan kolaborasi, mengingat seni budaya Bali kaya dengan 'pakem-pakem' (gerak) kesenian.
Seni pertunjukan campuran di Bali menurut Kadek Suartaya maupun Ketua Yayasan Arti Denpasar I Kadek Suardana sudah lazim dilakukan seperti dalam pagelaran "Prembon", salah satu kesenian tradisional Bali yang berangkat dari konsep kolaborasi.
"Prembon" mengakomodasikan keahlian dari berbagai jenis kesenian tradisional di Pulau Dewata. Fleksibilitas konsep ini justru menyelamatkan dan memperkokoh keberadaan suatu bentuk kesenian sehingga mampu menjadi wadah kreativitas seniman Bali.
Dramatari calonarang, teater ritual magis misalnya sangat kental dengan elemen-elemen seni pertunjukan gambuh, arja, legong, barong, topeng yang hingga kini dilakoni seniman dari berbagai latarbelakang keterampilan seni pentas.
Orang Bali tidak begitu fanatik dan senimannyapun dikenal luwes, tanggap dan memiliki kepekaan estetik. "Local genius" seniman sudah terbukti dalam sejarah proses kristalisasi kehadiran beragam ekspresi estetik di Pulau Seribu Pura, terbukti kesenian Bali banyak mendapat perhatian bangsa-bangsa lain di dunia internasional.
Bentuk baru
Kadek Suardana yang memimpin sebuah LSM yang peduli terhadap pengembangan dan kelestarian seni budaya Bali menilai, bangsa-bangsa dari berbagai negara di belahan dunia yang bertemu di Bali sebagai wisatawan memberikan pengaruh besar terhadap lahirnya bentuk-bentuk kesenian baru di Pulau Dewata.
Bentuk-bentuk kesenian Bali yang lahir dari pengaruh budaya asing itu, apakah meningkatkan mutu atau mengurangi mutu kesenian Bali itu sangat tergantung dari penilaian masyarakat yang menikmatinya.
Walaupun ada masyarakat atau pihak luar yang mengatakan pengaruh budaya asing akan menurunkan mutu atau melunturkan kesenian Bali itu perlu penelitian dan pengkajian lebih lanjut, ujar Kadek Suardana yang sukses memimpin tim kesenian Bali mengadakan lawatan ke sejumlah negara.
Ia menilai, budaya asing cukup besar pengaruhnya terhadap pengembangan kesenian Bali, baik kesenian yang khusus ditampilkan untuk kepentingan sektor pariwisata maupun untuk penguatan kesenian Bali itu sendiri.
Pengaruh yang lebih dikenal dengan kolaborasi itu antara tampak jelas pada kesenian sendratari Bali Agung yang ditampilkan pada pementasan rutin di Bali Safari and Marine Park (BSMP) Kabupaten Gianyar.
Puluhan seniman andal yang didukung ratusan seniman tabuh dan tari mampu menyuguhkan sebuah garapan sendratari yang dipadukan dengan puluhan ekor gajah, aneka jenis burung dan jenis satwa lainnya yang menjadi koleksi kebun bintang tersebut.
Demikian pula garapan drama tari oleh Yayasan Arti Denpasar dengan judul "Sri Tanjung - The Scent or Innocence" sukses dipentaskan di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta dan memeriahkan pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB).
Pertunjukan itu mampu memancarkan ekspresi artistik bernuansa kontemporer yang menyatu secara estetis. Sebuah karya alternatif yang merevitalisasi kesenian tradisi yang mudah diapresiasikan masyarakat luas.
Garapan drama tari "Sri Tanjung" melalui proses yang membutuhkan waktu cukup lama berawal dengan mengadakan penelitian interpretasi naratif dan penulisan skrip, menyusul penggarapan komposisi musik dan tembang.
Semua itu dimaksudkan untuk membuat padu-padan yang harmonis yang mampu menjembatani masa lalu dengan masa sekarang.
Bali sebagai daerah tujuan wisata, pengaruh orang asing terhadap pengembangan kesenian sangat kental dan hal itu tidak perlu dikhawatirkan, karena pengembangan seni dan budaya tetap terbingkai dalam seni tradisi yang diwarisi masyarakat secara turun temurun, tutur Kadek Suardana.(IGT)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.