Selain itu, banjir juga memutus akses jalan aspal sehingga sejumlah warga terisolir lantaran areal di sekitarnya mengalami banjir.
Pantauan di lapangan, ada empat kepala keluarga (KK) masing-masing Nengah Renen (50), Guru Kade Wandra (60), Ketut Sumerta (50) dan Gede Budi Sedana (50), yang rumahnya berada di tengah-tengah banjir sehingga tidak bisa keluar.
Selain itu, banjir yang tidak begitu tinggi juga menggenangi rumah Wayan Weren (50) dan Gede Wartana.
Weren mengatakan, rumahnya sudah beberapa kali terendam banjir akibat jebolnya tanggul pada tahun 2008 lalu.
Lurah Sangkaragung, I Putu Nova Noviana mengatakan, banjir ini merendam 75 hektare sawah yang mengakibatkan petani tidak bisa menanam padi.
Untuk tanggul yang jebol Nova mengaku, pihaknya sudah mengusulkan ke Pemprov Bali untuk melakukan perbaikan.(**)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.