"Nilai tukar rupiah kembali bergerak nelemah, masih kuatnya permintaan atas aset berdenominasi dolar AS membuat rupiah bergerak di area negatif," kata Analis Senior CSA Research Institue Reza Priyambada di Jakarta, Senin.
Kendati demikian, menurut dia, pelemahan rupiah relatif terbatas. Sentimen mengenai nota RABPN 2019 yang disampaikan Presiden Joko Widodo yang menyebutkan rupiah ditargetkan dapat mencapai Rp14.400 per dolar AS memberi harapan apresiasi rupiah ke depannya.
"Target itu cukup realistis dan pemerintah terlihat cukup optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," katanya.
Ekonom Samuel Sekuritas Ahamd Mikail menambahkan adanya kemungkinan pertemuan antara delegasi Amerika Serikat-Tiongkok pada 21-22 Agustus untuk melakukan perundingan dalam penyelesaian sengketa perang dagang dapat berdampak positif pada mata ueng di negara berkembang.
"Perundingan itu meredakan tensi kedua negara. Perundingan tersebut juga membuat yuan menguat, diperkirakan berdampak positif bagi rupiah," katanya.
Ia menambahkan bahwa kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 5,5 persen kemungkinan juga mendorong rupiah terapresiasi. Doperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp14.500-Rp14.600 per dolar AS. (WDY)
Pewarta: Zubi MahrofiEditor : I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.