Denpasar (Antara Bali) - Sosok pria berpenampilan sederhana itu sepenuhnya mengabdikan diri pada seni jegog, kesenian khas Kabupaten Jembrana, Bali yang instrumennya terbuat dari bambu berukuran besar itu.
Dari berbagai jenis intrumen bambu itu sanggup melahirkan beragam jenis kreasi baru dalam bidang tabuh dan gending-gending mengiringi gerak tari yang mampu membangkitkan gairah masyarakat dalam bidang berkesenian.
I Nengah Selen (63), pria kelahiran Desa Tegalcangkring, Kabupaten Jembrana, sepenuhnya mengabdikan diri untuk pengembangan dan pelestarian seni jegog itu dengan senang hati membina dan mencetak generasi penerus sebagai pewatis kesenian khas Bali barat.
Suami dari Ni Nengah Seri (60) itu dengan senang hati mewariskan keahlian bidang tabuh dan tari jegog kepada generasi muda atau warga sekitarnya yang tertarik, juga dengan gigih mengajarkan seni itu kepada mahasiswa warga negara asing, yang tertarik mempelajari kesenian jegog.
Tidak terhitungkan jumlahnya, entah berapa puluh warga negara asing yang sempat dibina untuk mempelajari kesenian jegog dengan media kendang mebarung. Dari sekian banyak murid asing, beberapa diantaranya Khaterine Seuton Biddali, mahasiswa dari Yale University Amerika pernah belajar tabuh jegog di rumah ini.
Meskipun tempat tinggalnya berjarak 85 km arah barat kota Denpasar, mahasiswa asing yang sangat tertarik belajar dan mendalami jegog akan menemuinya tanpa merasa ada hambatan. Sukses mengajar Khaterine pada tahun 1998 itu, ternyata terus disusul oleh mahasiswa asing lainnya yang ingin melajar jegog. Pada
Pria yang akrab disapa Pan Gama Astawa, pendiri Sekaa Jegog "Putra Ardana Kusuma" Banjar Bilokpoh, Tegalcangkring pada tahun 1985 itu, sejak sukses mengajar Khaterine, terus kedatangan mahasiswa asing ke rumahnya secara silih berganti.
Demikian pula Roland Alizy dari New York, Amerika Serikat bersama dua rekannya juga belajar tabuh jegog tahun 1999, hasilnya selama satu bulan bisa memainkan instrumen jegog dengan baik.
Keahlian Karl Larrolla, Michael Seely dan Roland, seniman asing dalam memainkan kendang mebarung sempat dipentaskan, di hadapan masyarakat setempat mampu memukau masyarakat penonton.
"Kedatangan orang asing belajar jegog, mampu lebih membangkitkan kegairahan masyarakat setempat mendalami tabuh jegog, hingga akhirnya kesenian itu terus berkembang," tutur Nengah Selen.
Berkat prestasi, dedikasi dan pengabdiannya dalam penggalian, pengembangan dan pelestarian seni budaya Bali, khususnya kesenian jegog sosok I Nengah Selen kini menjadi salah satu dominasi penerima seni Dharma Kusuma, penghargaan tertinggi dalam bidang seni dari Pemerintah Provinsi Bali.
Satu tim dari instansi terkait menurut Kepala Seksi Perfilman dan Perizin pada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Dauh masih melakukan seleksi secara ketat terhadap mereka yang dinilai berjasa dalam pengembangan seni budaya Bali hingga sekarang eksis di tengah himpuran budaya global.
Seniman yang lolos seleksi dari tim instansi terkait tersebut mendapat anugrah Dharma Kusuma yang diserahkan pada puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 Pemerintah Provinsi Bali, 14 Agustus 2011.
Tempat di hati masyarakat
Alunan instrumen musik yang merdu itu semakin mendapat tempat di hati masyarakat Pulau Dewata, karena setiap pembukaan Pesta kesenian Bali (PKB), aktivitas tahunan seniman Pulau Dewata, Jegog dipercaya mengiringi atraksi budaya tersebut.
Keindahan jegog yang mendayu-dayu, keras dan sayup-sayup itu, sanggup memberikan semangat terhadap kehidupan umat manusia, khususnya setiap penonton yang menyaksikan.
Bahkan kesenian jegog dalam perkembangannya sudah "mendunia", karena Sekaa (grup) Jegog dari Jembrana itu sering mengadakan lawatan ke Jepang dan beberapa negara di belahan dunia lainnya.
Berkat keinginan yang keras dan belajar tanpa pernah putusasa menjadikan pria kelahiran tahun 1948 itu sebagai seniman favorit dalam memukul kendang mebarung (kendang ukuran besar) pada Sekaa kendang di Desa Pergung, Jembrana.
Seniman serba bisa yang kesehariannya tidak bisa dipisahkan dengan seni itu, selain mewariskan keahlian bidang tabuh dan tari jegog kepada seniman setempat, juga dengan gigih mengajarkan kepada warga negara asing, yang tertarik mempelajari kesenian jegog.
Suami dari Ni Nengah Seri kesehariannya hanyalah seorang petani, namun mempunyai rasa cinta terhadap kesenian Bali. Dengan didorong bakat alamnya yang kental mampu mengantarkan dirinya untuk berperanserta secara aktif dalam proses pengembangan, pembinaan, penggalian dan pelestarian seni kerawitan Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana, daerah ujung barat Pulau Dewata.
Sang istri Ni Nengah Seri pada masa mudanya adalah seorang seniman tari khusus tari Ticak Sangkur pada seni pertunjukkan jegog tempo dulu. Pasangan suami-istri itu dikaruniai tiga putra dan seorang purti. Mereka masing-masing I Wayan Gama Astawa, S.Sn, I Nengah Suarnita, Ni Nyoman Juliani dan I Ketut Anom Wirawan.
Keempat putra-putrinya itu mewarisi bakat seni, terutama I Wayan Gama Astawa, S.Sn, alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) tahun 1994 yang kini berubah status menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
I Nengah Selen, kakek dari empat cucu itu sejak tahun 1953, atau lebih dari setengah abad menggeluti kesenian jegog, gong kebyar, pelegongan dan berbagai jenis kesenian lainnya. Kemampuan dan kepiawaian menguasasi tabuh dan tari itu antara lain berkat pembinaan dari banyak gurunya di sejumlah daerah di Bali antara lain I Wayan Berata dari Denpasar.
Kesenian jegog berkembang hampir di seluruh pelosok Jembrana, diperkirakan sudah berkembang sejak tahun 1912, berawal dari Desa Sebual, di Kabupaten Jembrana. Nang Gliduh (alm) adalah pencipta kesenian Jegog pada tahun 1912, disusul Pan Natil alias "Kiyang Jegog" dari Desa Delodbrawah pada tahun 1920, kemudian disusul adanya sekaa jegog di Pohsanten bersamaan dengan di Desa Mendoyo Kangin pada tahun 1940 dan di Desa Tegal Cangkring pada tahun 1940.
Penciptakan karya seni tabuh itu, Nang Gliduh, mendapat inspirasi saat menghalau burung yang memakan tanaman padi sedang menguning di sawah. Ia berteduh di sebuah "kubu" (saung), yakni bangunan sederhana di tengah sawah yang dibuat dari bahan bambu dengan atap daun kelapa itu, mengusir ribuan burung dengan memukul kulkul dari bahan bambu yang saling "bersahutan" dengan rekannya yang juga menjaga tanaman padi di sebelah sawah.
Suara merdu yang dapat ditimbulkan dari gerakan yang tidak disengaja saat menghalau burung itu, kemudian dicoba mengkombinasikan dengan "tingklik", instrumen musik tradisional yang sangat sederhana dari bahan bambu, namun ukurannya lebih kecil.
Setiap petani memiliki bangunan sederhana (kubu) sebagai tempat istirahat sementara di tengah sawah, dan tempat itu dilengkapi dengan "tingklik" guna menghibur diri selesai membajak di sawah. Dari seluruh kubu di subak Sebual menyuarakan tingklik, maka alunan suara merdu menjadi ramai. Ketika petani pulang ke rumah masing-masing secara serempak mereka sepakat barungan tingklik.
Dalam perkembangannya, perangkat gamelan tingklik instrumennya disempurnakan, ditambah sana-sini dengan ukuran bervariasi dari ukuran kecil hingga besar dan masing-masing memiliki fungsi berbeda, maka lahirlah kesenian yang disebut Jegog.
Jegog adalah tungguh gamelan yang paling besar atau "mejegog", inspirasinya dari nama burung gambelan kebyar yang paling besar jegogannya. Peralatannya, antara lain grantang jegog terdiri atas tiga buah ukuran menengah, letak paling depan berfungsi sebagai melodi (nada pokok), bagian tengah sebagai pemimpin (memulai) sekaligus mengakhiri tabuh.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.