Denpasar (Antara Bali) - Lahan pertanian Bali tergarap melalui sistem subak dan  selalu dilaporkan surplus beras, namun tercatat mengimpor sebanyak 7.901 ton beras dari Vietnam selama Januari-Maret 2011.

Beras yang didatangkan antara bulan Februari dan Maret 2011 itu bernilai 4.076.000 dolar AS, kata Pimpinan Bank Indonesia Denpasar, Jeffrey Kairupan, dalam laporan ekonomi keuangan daerah Provinsi Bali Kamis.

Bali tercatat mengimpor beras hampir setiap tahun, namun yang terbanyak tahun 2010 sebanyak 8.472 ton dengan mengeluarkan devisa 4,1 juta dolar, sedangkan sebelumnya hanya 17 ton seharga 67 ribu dolar.

Beras impor tersebut didatangkan dari Vietnam untuk memenuhi kebutuhan persediaan pangan nasional 2011 di Pulau Dewata, terutama diberikan kepada masyarakat miskin, persediaan bencana alam dan persediaan pemerintah.    

Ketua Satgas Kerja Raskin Bulog Devisi Bali, Drs Wayan Suyasa di Denpasar membenarkan bahwa Perum Bulog Divisi Regional Bali mendatangkan beras dari Vietnam untuk memenuhi persediaan pangan nasional 2011 di Pulau Dewata.      

Bali menerima beras impor sebanyak itu adalah sebagian kecil dari 300 ribu ton yang diimpor Bulog dari Vietnam sebagai cadangan beras pemerintah, dan diberikan kepada daerah-daerah yang memerlukan.

Perum Bulog Divisi Regional Bali menerima beras impor itu karena merealisasikan beras untuk masyarakat miskin sekitar 2.000 ton per bulan, dan memenuhi permintaan dari anggota ABRI, dan persediaan bencana alam.

Untuk memenuhi persediaan beras di daerah ini, Bali terpaksa mendatangkan dari luar daerah termasuk impor, sehingga persediaan beras di daerah tempat pelesiran masyarakat dunia tidak perlu dikhawatirkan.

Ia menjelaskan, Bali menerima beras impor, bukan berarti daerah ini tidak berproduksi, beras hasil panenan petani sebenarnya melebihi kebutuhan, namun dijual ke pasaran bebas karena harganya lebih mahal dari pembelian Bulog.

Ini salah satu sebab, Bulog tidak banyak membeli beras produksi petani Bali, karena harga salah satu kebutuhan pokok rakyat di pasaran, jauh lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah (HPP) yakni Rp5.800/Kg.

Suyasa mengatakan, Bali setelah menerima beras impor tersebut, maka jumlah beras sebagai persediaan nasional yang ada di daerah ini cukup memenuhi kebutuhan masyarakat untuk lima bulan ke depan.

Dalam menghadapi hari-hari besar keagamaan dan nasional, seperti bulan Ramadhan 2011, tidak perlu khawatir karena persediaan beras yang ada tersimpan di gudang Bulog cukup memadai.(*)




: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026