Denpasar (Antara Bali) - Ekspor ikan dan udang dari Bali ke pasaran luar negeri senilai 13,11 juta dolar AS selama bulan Oktober 2017, atau meningkat 2,01 juta dolar AS atau 18,10 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 11,10 juta dolar AS.

"Namun dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya juga meningkat sebesar 1.89 juta dolar AS atau 16,92 persen, karena September 2016 pengapalan ikan dan udang itu hanya menghasilkan devisa sebesar 11,21 juta dolar AS," kata Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, I Gede Nyoman Subadri di Denpasar, Sabtu.

Ia mengatakan komoditas ikan dan udang itu mempu memberikan kontribusi sebesar 17,50 persen dari nilai total ekspor Bali yang mencapai 47,69 juta dolar AS selama bulan Oktober 2017, meningkat 2,72 juta dolar AS atau 6,05 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 44,97 juta dolar AS.

"Perolehan devisa itu dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya merosot sebesar 6,08 juta dolar AS atau 11,70 persen, karena bulan Oktober 2016 meraih devisa hingga 53,77 juta dolar AS," ujar I Gede Nyoman Subadri.

Pasaran China menyerap paling banyak pengapalan ikan dan udang dari Bali yang mencapai 26,83 persen, menyusul Amerika Serikat 26,29 persen, Jepang 16,81 persen, Vietnam 9,42 persen, Austrralia 3,84 persen, Singapura satu persen, Hong Kong 3,58 persen, Thailand 0,63 persen, Jerman 0,80 persen dan Belanda 0,42 persen.

Sedangkan 10,36 persen sisanya diekspor ke berbagai negara lainnya di belahan dunia, karena ikan dan udang dari Bali sangat diminati konsumen luar negeri.

I Gede Nyoman Subadri menambahkan, ikan dan udang merupakan salah satu dari lima komoditas utama ekspor Bali yang memberikan andil terbesar yakni 27,50 persen, menyusul produk pakaian jadi bukan rajutan 12,99 persen, produk perhiasan (permata) 12,68 persen, produk kayu, barang dari kayu 9,25 persen, serta produk perabot dan penerangan rumah 7,65 persen.

Meskipun nilai ekspor ikan dan udang dari Bali itu cukup besar, namun perannya terhadap pembentuk nilai tukar petani (NTP) menurun sebesar 138 persen dari 106,28 persen pada September 2017 menjadi 104,81 persen pada Oktober 2017.

Indeks harga dari hasil produksi yang diterima petani mengalami penurunan 0,66 persen, namun indeks yang diterima petani (lb) tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,73 persen. Menurunnya indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh merosotnya harga komoditas perikanan pada kelompok perikanan tangkap sebesar 0,92 persen dan perikanan budidaya 0,13 persen.

Menurunnya pada kelompok perikanan tangkap dominasi pengaruh faktor cuaca. Beberapa komoditas perikanan mengalami penurunan harga antara lain cumi-cumi, ikan cekalang dan ikan kembung, ujar I Gede Nyoman Subadri. (*)

Pewarta: I Ketut Sutika
Editor : Edy M Yakub

COPYRIGHT © ANTARA 2026