Ia menilai, lahan pertanian yang gagal panen tahun ini cukup besar yaitu dari 600 hektare sawah produktif, 510 diantaranya gagal panen.
"Gagal panen itu akibat serangan hama serta kekurangan air. Hal ini harus kita sikapi dengan serius," kata politisi dari Fraksi Golkar ini.
Suardana menganggap penting soal petani ini diangkat dalam sidang paripurna karena sudah dua kali pertanian di Jembrana gagal panen.
"Kondisi petani sudah sangat memprihatinkan, bahkan banyak di antaranya yang terbelit hutang karena padinya gagal panen," ujar Made Suardana.
Selain akan membawa dalam sidang paripurna, Suardana juga mendesak Pemkab Jembrana untuk lebih serius dalam menangani persoalan-persoalan di kalangan petani.
Menurutnya, pemerintah harus membangun bendungan-bendungan kecil sebagai bagian dari irigasi untuk mengatur pengairan ke sawah.
"Dengan bendungan-bendungan kecil itu, selain bisa menampung air, alirannya juga akan bisa lebih teratur," kata Suardana.
Yang tidak kalah penting dilakukan, menurut Suardana, adalah menindak tegas pelaku perusakan hutan sebagai sumber mata air.
"Hutan harus benar-benar diamankan, karena kekurangan air di sektor pertanian ini ternyata akibat dari rusaknya hutan," tegas Made Suardana.
Ia juga mengatakan, sudah selayaknya pemerintah untuk membantu petani-petani yang mengalami gagal panen.
Guna mencegah kembalinya serangan hama pada musim tanam mendatang, Suardana mendesak, instansi terkait untuk lebih mengintensifkan peran petugas-petugas penyuluh pertaniannya.
"Banyak keluhan dari petani kalau petugas penyuluh kurang memperhatikan apa yang terjadi di kalangan petani," katanya.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.