Denpasar (Antara Bali) - Nilai tukar petani (NTP) Bali sebesar 106,67 persen pada Juni 2011, mengalami penurunan 0,49 persen dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 107,19 persen, namun kondisi ini masih lebih tinggi dari angka nasional yang hanya 104,70 persen.

"Menurunnya NTP Bali tersebut akibat berkurangnya tiga subsektor yang meliputi hortikultura 1,62 persen, tanaman perkebunan rakyat 0,80 persen dan subsektor perikanan 0,27 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali I Gede Suarsa, di Denpasar, Jumat.

Ia mengatakan, dari lima subsektor yang menjadi indikator dalam menentukan nilai tukar petani, tiga di antaranya mengalami penurunan dan dua subsektor menunjukkan adanya peningkatan.

Kedua subsektor yang mengalami peningkatan, meliputi tanaman pangan sebesar 0,10 persen dan sektor peternakan 0,56 persen.

Kondisi tersebut berkat naiknya indeks harga hasil produksi tanaman pangan dan peternakan yang diterima petani lebih besar dari indeks barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga pedesaan di Pulau Dewata.

Gede Suarsa menambahkan, NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan dan daya beli petani di tingkat pedesaan di Bali. Dengan demikian, tingkat kesejahteraan petani di Bali lebih baik dibanding rata-rata nasional.

Selain itu juga menunjukan daya tukar dari produk pertanian terhadap barang dan jasa yang diperlukan petani untuk konsumsi rumah tangga maupun untuk biaya produk pertanian.  

NTP, kata Gede Suarsa, diperoleh dari perbandingan indeks yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani.

Berbagai komoditas pertanian yang dihasilkan petani dikelompokan ke dalam lima subsektor. Indeks harga yang diterima petani pada lima subsektor tersebut menunjukkan fluktuasi harga yang beragam.

Kondisi tersebut menyebabkan daerah pedesaan di Bali mengalami 0,08 persen selama bulan Juni 2011 dan secara nasional terjadi inflasi pedesaan sebesar 0,40 persen.

Dari 32 provinsi di Indonesia yang menjadi sasaran pengamatan, 26 provinsi di antaranya mengalami inflasi pedesaan dan enam provinsi terjadi inflasi pedesaan.

Bali menempati urutan ke-25 dari 26 provinsi di Indonesia yang mengalami inflasi pedesaan.

Inflasi pedesaan tertinggi terjadi di Bengkulu sebesar 0,96 persen dan deflasi pedesaan tertinggi di Sulawesi Selatan sebesar 0,37 persen, tutur Gede Suarsa.(*)




Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026