Denpasar (Antara Bali) - Petinju Bali akan memusatkan diri dan pikiran untuk bisa merebut tiket PON sebanyak mungkin melalui kejuaraan nasional yang dikaitkan dengan babak kualifikasi PON di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Pengurus pusat merencanakan menyelenggarakan babak kualifikasi PON di tiga tempat, selain Mataram juga di Papua dan Medan, kata Komisi Teknik Pengprov Pertina Bali IGM Adi Swandana di Denpasar, Selasa.

Petinju Bali tampaknya sulit mengikuti kejuaraan penuh di tiga lokasi pertandingan tersebut sehubungan dengan kondisi dana yang dimiliki. "Karenanya, kami akan memusatkan pikiran hanya di pra PON di Mataram saja," kata Adi Swandana.

Tidak saja Bali, daerah lain di Indonesia juga mengalami kesulitan dana dalam mengikuti kejuaraan di banyak tempat, mengingat biaya transportasi sangat tinggi, terutama untuk ke Papua atau Medan, Sumatera Utara.

Bali sedikitnya sudah memiliki dua petinju andalan yang saat ini mengikuti pelatihan tingkat nasional (Pelatnas), dan mereka itu sudah dapat dipastikan bisa mengantongi tiket untuk maju ke PON 2012 di Riau.

Adi yang mantan petinju nasional itu mengatakan, pihaknya masih akan menjaring sejumlah petinju dari anak-anak gemblengan sasana yang ada di Pulau Dewata untuk bisa berlaga pada babak pra PON di Mataram.

"Kami Juli nanti akan melaksanakan penjaringan melalui kejuaraan daerah yang akan direncanakan di Singaraja, Bali Utara, Juli mendatang," kata Adi Swandana yang membina sejumlah anak penghobi adu jotos di Denpasar itu.

Ia yang juga sebagai pelatih tinju di Bali mengungkapkan, Pertina Bali dalam memantapkan pembinaan atlet menjelang perhelatan pada 2012 di Riau, memerlukan sedikitnya dana Rp375 juta selama tahun 2011.

Dana sebesar itu hanya untuk membiayai atlet mengikuti berbagai jenis kejuaraan tingkat nasional, termasuk pra PON, tetapi tidak memperhitungkan untuk bisa mengikuti babak pra PON di Papua yang biayanya sangat tinggi.

Ia mengatakan, untuk tahun 2010 yang kegiatannya belum begitu banyak, pihaknya sudah mengeluarkan dana sekitar seratus juta rupiah hanya untuk membiayai tiga jenis kegiatan seperti kejurnas, seleksi atlet dan STE.

Pemerintah Provinsi Bali melalui KONI membantu dana kepada organisasi adu jotos ini sebanyak Rp50 juta, sehingga kekurangannya diusahakan oleh pengurus termasuk sumbangan dari donatur yang tidak tetap.

Dana yang dikeluarkan selama 2010 hanya untuk biaya mengikuti kejurnas ke Aceh yang tercatat menghabiskan Rp36 juta, kejuaraan di Ujung Pandang Rp29,5 juta, dan melakukan seleksi menghabiskan Rp16,5 juta, belum lagi dana pembinaannya.

Dana mencetak atlet dari awal hingga mencapai prestasi di tingkat nasional cukup besar, sedangkan bantuan dari pemerintah relatif kecil, sehingga olahraga ini ditangani berdasarkan kesenangan semata, kata Adi Swandana.(*)




: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026