Denpasar (Antara Bali) - Di Bali, tiada hari tanpa kegiatan dan aktivitas keagamaan umat Hindu, dengan kelengkapan ritual yang cukup rumit kombinasi antara bunga, janur, buah, dan aneka jenis kue (jajan) khas provinsi itu.

Oleh sebab itu diperlukan kemampuan dan keterampilan khusus untuk mengombinaikan berbagai elemen untuk melengkapi kegiatan ritual dan sesuai fungsi dan maknanya, di samping mencerminkan keindahan.

Selama ini tidak semua remaja putri maupun ibu rumah tangga sanggup membuat rangkaian janur untuk kelengkapan ritual. Oleh sebab itu Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33 tahun 2011 yang berlangsung selama sebulan penuh, 10 Juni-9 Juli 2011 mengagendakan lomba merangkai bunga, janur, dan menu makanan.

Kegiatan yang melibatkan utusan dari dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali mengawali seluruh rangkaian PKB yang berlangsung sehari penuh di lantai satu Gedung Ksiarnawa, Taman Budaya Denpasar, Minggu (12/6).

Acara yang disaksikan Ketua Tim Penggerak PKK provinsi Bali Nyonya Ayu Pastika yang juga istri Gubernur Bali itu mendapat perhatian besar dari masyarakat pengunjung, terutama remaja putri dan ibu rumah tangga.

Lomba merangkai bunga dan janur dibagi dalam beberapa jenis, antara lain   lomba membuat "tamiang kuningan", salah satu kelengkapan untuk perayaan Hari Raya Kuningan, rangkaian hari Raya Galungan dalam memperingati Dharma (kebaikan) atas Adharma (keburukan) yang melibatkan 25 peserta, utusan dari delapan kabupaten dan satu kota di daerah ini.

Demikian pula lomba membuat "sampian penjor" Galungan  diikuti 25 peserta khusus remaja putri usia 18-25 tahun. Lomba membuat jajan "pasung" salah satu kelengkapan ritual melibatkan 18 peserta remaja putri umur maksimal dibatasi 18 tahun.

Lomba membuat "jajan blebes" atau jajan untuk kelengkapan ritual saat padi mulai disimpan di lumbung (mantenin) juga diikut dilombakan  melibatkan 24 peserta utusan terbaik dari masing-masing kabupaten/kota di daerah ini.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Ketut Suastika, tim juri dari berbagai unsur instansi terkait melakukan penilaian menyangkut kelengkapan, fungsi, makna disamping kesersian  yang mencerminkan keindahan.

Lomba merangkai bunga, janur dan menu makanan itu sengaja diberikan perhatian serius, yakni hari pertama dari seluruh kegiatan PKB. Selain itu juga selalu masuk dalam agenda PKB sejak kegiatan itu digelar tahun 1978 atau 33 tahun yang silam.

Merangkai bunga dan janur itu  bagi wanita Bali sangat penting artinya, karena hampir setiap hari bergelut dengan kegiatan ritual. Setiap enam bulan sekali akan merayakan Hari Suci Galungan, Kuningan dan piodalan di tingkat rumah tangga dan "pura kayangan tiga" yakni tiga pura dalam lingkungan desa adat.

Semua itu memerlukan kelengkapan ritual (banten), rangkaian janur yang kombinasi dengan buah dan aneka jenis jajan khas Bali. Oleh sebab itu setiap wanita Bali, remaja putri dan ibu rumah tangga harus memiliki keterampilan dan keahlian untuk membuat kelengkapan ritual.

Melalui kegiatan PKB itu diharapkan mampu memberikan motivasi   kepada masyarakat untuk meningkatkan keterampilan membuat berbagai jenis keperluan ritual, sekaligus melangkah lebih maju, sesuai perkembangan zaman, tanpa menghilangkan esensi kehidupan berkesenian.

Selain itu menurut Ketut Suastika untuk menunjukkan greget PKB, yang mendapat perhatian besar masyarakat, memunculkan rasa untuk terus mengisi diri dengan berbagai pengalaman dan pengetahuan dalam menghadapi arus komunikasi yang semakin terbuka.

Melalui kegiatan lomba tersebut juga mampu memberikan ruang kepada seniman, perajin dan kelompok masyarakat untuk berkompetisi secara sehat, sehingga mampu memunculkan semangat untuk berkreativitas menghasilkan karya seni inovatif.

    
Masak serba ikan
 
Kegiatan tersebut juga menampilkan utusan dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali dalam lomba memasak serba dari bahan ikan. Tim juri melakukan penilaian menyangkut  kreasi penyajian, cita rasa, dan kebersihan.

Kegiatan tersebut juga dimaksudkan untuk mengajak masyarakat  mengkonsumsi ikan, dengan harapan mampu meningkatkan produksi sektor perikanan.

Penyajian aneka jenis makanan khas tradisional Bali dari bahan ikan masing-masing peserta tampak cukup indah dan serasi dengan hiasan buah-buahan yang diukir bagaikan cinderamata, hasil sentuhan tangan-tangan terampil yang mampu mengundang kegairahan untuk menikmatinya.

Hidangan untuk satu keluarga itu ditata sedemikian rupa dengan menonjolkan kerapian dan keindahan.   Kegiatan PKB yang melibatkan  organisasi wanita untuk lomba menu makanan  secara bertahap mampu mengangkat aneka jenis makanan tradisional Bali, termasuk non beras, ke permukaan.

Aneka jenis jajan tradisional Bali yang dihidangkan sebagai makanan ringan atau untuk sarapan pagi yang rasanya tidak kalah dengan roti produksi perusahaan (bakery), antara lain sumping yang terbuat dari tepung beras didalamnya berisi pisang yang direbus dan dibungkus dengan daun pisang.

Selain itu juga pisang rai juga dibuat dari tepung beras kombinasi dengan pisang, kelepon dibuat dari tepung beras didalamnya berisi gula merah yang sudah mencair, jajan ketan, urab sela dan cerorot.

Sedangkan aneka jenis makanan tradisional khas Bali yang keberadaannya hampir sejajar dengan jenis makanan yang sudah go internasional dari sejumlah negara antara lain sup ikan, ayam betutu, sayur daun belimbing, sate dan lawar (masakan daging khas Bali).

Namun dalam lomba makanan kali ini hanya khusus menggarap dan menghidangkan menu dari bahan ikan, tutur Ketut Suastika.(*)




Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026