"Dari lima pasang burung yang di Bali disebut curik itu, sepasang di antaranya dilepas ke alam bebas dan empat pasang lainnya ditangkarkan dalam kawasan TNBB," kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bali I Gede Nyoman Wiranatha di Denpasar, Rabu.
Ia mengatakan, kelima pasang burung jalak bali itu akan dilepas Gubernur Bali Made Mangku Pastika didampingi pihak Bali Safari & Marine Park di kawasan TNBB, 90 km barat Denpasar, Kamis (2/6).
Pelepasan burung jalak Bali hasil penangkaran ke alam bebas itu sebelumnya melalui proses yang cukup lama, dengan harapan burung yang memiliki karakteristik bulu dominan putih, mampu beradaptasi dengan kondisi dan lingkungan TNBB.
Nyoman Wiranatha menambahkan, pihaknya melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan populasi burung jalak Bali di alam bebas maupun penangkaran.
Hal itu dilakukan karena burung jalak Bali oleh Convention on International Trade in Endangered Species (CITES), telah memasukkan ke dalam "list appendix 1 CITES" atau masuk kategori satwa yang terancam punah.
Berbagai upaya yang dilakukan pelepasliarkan dan disangkarkan mampu penyelamat burung endemik sekaligus meningkatkan populasi burung unik itu.
Populasi maskot fauna Bali di alam bebas TNBB diperkirakan 37 ekor dan dipenangkaran dalam kawasan tersebut 147 ekor.
Populasi "si jambul indah" yang bersuara merdu itu diharapkan terus berkembang, baik di alam bebas maupun penangkaran, kata Gede Nyoman Wiranatha.
Untuk keberhasilan penangkaran dan kelak diliarkan kembali, harus sesuai dengan habitat alamnya. Habitat burung jalak Bali hanya satu-satunya di TNBB antara Teluk Brumbun dan Teluk Kelor terdapat pilang (acacia leucophloea) dan walikukun (Sckoutenia ovata) untuk bertengger dan tidur.
Pohon lainya adalah taiok (grewia koordersiana), tekik (albizia lebbeckioides), kemloko (Phyllantus emblica), kesambi (schleira oleosa) dan intaran (azadiracta indica).
Pohon-pohon tersebut terdapat ulat serta semut maupun rayap yang merupakan makanan si jambul. Sedangkan pohon yang dimanfaatkan Jalak Bali untuk bersarang adalah klumprit (terminalia microcarpa), laban (vitex pubescens), talok (grewia koordersiana) dan walikukun.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan itu mampu meningkatkan populasi dengan harapan mampu terhindar dari kepunahan, kata Gede Wiranatha berharap.(*)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.