Gianyar (Antara Bali) - Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Gianyar I Gusti Ngurah Wijana mengaku, nyaris tertipu belasan juta rupiah oleh seseorang yang mengaku dokter pada RSUP Sanglah Denpasar.

"Kejadiannya pada Kamis pertengahan pekan lalu, namun sampai sekarang saya masih terkaget-kaget," kata Ngurah Wijana di Gianyar, Selasa.

Ia menyebutkan, hari itu dirinya menerima telepon dari seseorang yang mengaku bernama Dokter Santoso. "Dokter tersebut mengatakan bahwa anak saya bernama Dewi yang bekerja di RSUP Sanglah, mengalami kecelakaan," ujarnya.

Melalui "handphone" bernomor 081574557025, si "dokter" juga mengatakan, kalau Dewi mengalami luka yang sangat hebat di kepala, sehingga harus dilakukan operasi.

"Mendengar itu, saya kalang kabut dan langsung meninggalkan tempat kerja dengan perasaan yang sangat kalut," katanya.

Di perjalanan menuju rumah sakit, si "dokter" kembali menelepon menyuruh Wijana menghubungi apotek yang direkomendasikannya.

"Kata si dokter ada salah satu alat yang harus dibeli di apotek, karena di RSUP Sanglah tak memiliki alat itu," ujar Wijana.

Mendapat saran seperti itu, Wijana akhirnya menelepon apotek yang dimaksud. "Pertama tak ada yang ngangkat, kemudian yang kedua kalinya baru ada yang mengangkat," katanya.

Dari "seberang sana", lanjut Wijana, petugas apotek menyebutkan kalau alat untuk kepentingan operasi itu harganya Rp12 juta per unit.

Tidak hanya itu, petugas apotek juga meminta agar uang sebanyak itu segera ditransfer pada rekening yang ditunjuk, agar alat secepatnya dapat dikirim ke RSUP Sanglah.

"Karena saya tak membawa uang sebanyak itu, akhirnya saya terhentak sejenak di tengah perjalanan dari Gianyar menuju RSUP Sanglah," ucapnya.

Setelah sempat beristirahat sejenak, kata dia, tiba-tiba baru terpikir untuk menghubungi sang anak lewat HP-nya.

"Alangkah terkejutnya saya, sekaligus merasa lega, ternyata anak saya mengaku sedang tidur-tiduran di rumah kosnya di Denpasar," ujar Wijana.

Setelah itu, Wijana mengaku baru sadar kalau dirinya telah ditipu oleh seseorang yang ingin meraih "duit" sebanyak Rp12 juta.

Terkait pengalamannya itu, dia mengingatkan masyarakat untuk senantiasa berhati-hati melakukan transaksi melalui telepon, apalagi yang berkaitan dengan uang yang jumlahnya cukup besar.

"Banyak cara atau modus yang dipakai penjahat dalam mengelabui calon korbannya," kata Wijana sambil menghela napas yang panjang.(*)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026