Bantahan bupati dua periode itu disampaikan melalui Kabag Humas dan Protokol Pemkab Buleleng Made Juniadi SIP kepada wartawan di Singaraja, Kamis.
Juniadi menyampaikan bantahan tersebut menanggapi pernyataan dua anggota DPRD Bali asal Buleleng, Ketut Kariasa Adnyana dan Dewa Nyoman Rai Adi, yang intinya menyebutkan Bupati Bagiada sibuk melakukan kampanye untuk "putra mahkotanya".
Kedua wakil rakyat itu juga senada menyatakan, karena kesibukannya itu, bupati sering tidak bisa menghadiri beberapa acara penting, baik yang berlangsung di tingkat kabupaten maupun Provinsi Bali.
Kabag Humas Juniadi mengatakan, bupati tidak bisa hadir dalam kegiatan di tingkat provinsi di Denpasar bukan karena ada kepentingan kampanye, melainkan jadwal dinas bupati belakangan ini sangat padat.
"Beberapa hari lalu, beliau didampingi Kadisbupar Buleleng, berangkat ke Jakarta guna mengikuti pertemuan terkait dengan penataan objek wisata Lovina," ujarnya.
Sepulang dari Jakarta, bupati langsung menghadiri pelantikan Perbekel atau Kepala Desa Pangkung Paruk, dilanjutkan menghadiri pembinaan subak abian di Desa Poh Bergong.
"Karena jadwalnya beliau sangat padat, maka mengutus Kepala Bappeda Gede Darmaja dan Asisten II Made Widiarta untuk menghadiri rapat di tingkat provinsi, yakni di DPRD Bali yang kala itu membahas RTRW Bali, pada Rabu (25/5) lalu," katanya menjelaskan.
Ketika disinggung pernyataan anggota Fraksi PDIP DPRD Bali Ketut Kariasa Adnyana yang mengatakan, Bupati Bagiada yang mengklaim kinerjanya bagus di segala bidang, hanya sebuah kampanye untuk "putra mahkota".
"Itu tidak riil, melainkan hanya kepentingan kampanye," ujar anggota dewan yang dikenal vokal itu.
Juniadi malah balik menyatakan pendapat Kariasa yang benar-benar keliru. "Justru pembangunan dan iklim investasi di Bali Utara sejak dipimpin Bupati Bagiada mengalami kemajuan yang signifikan," ujarnya, geram.
Dicontohkan, pertumbuhan ekonomi di Buleleng terus meningkat. Data menunjukkan dari tahun 2003 sampai 2009, investasi Buleleng mencapai angka Rp8.385.723.602.256 dengan jumlah tenaga kerja yang diserap sebanyak 9.980 orang dari 751 investor yang menanamkan modalnya di Bali Utara.
Bukan itu saja, lanjut dia, penghargaan nasional terus berhasil diraih, termasuk kondusifitas masalah keamanan. Dari kenyataan itu, kini ada perubahan "image" dari semula Buleleng dikenal dengan sebutan kota panas, beralih menjadi kota pendidikan, kata Juniadi menambahkan.(*)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.