Gianyar (Antara Bali)- Tradisi bhiksu mengumpulkan makanan yang diberikan atau disodorkan umat Budha yang berderet di jalanan Kota Gianyar, Bali, Selasa, sempat menjadi perhatian warga setempat.

Wartawan ANTARA dari Gianyar melaporkan, pagi itu tampak seorang bhiksu tanpa alas kaki berjalan dari Vihara Cetiya Gangga Ratava di Jalan Dharmagiri menuju Puri Gianyar di alun-alun Kota Gianyar.

Di sepanjang rute yang dilalui, tampak bhiksu dengan senyum kedamaian menerima sejumlah makanan pokok yang disodorkan oleh warga beragama Budha yang berderet di pinggir jalan dan pintu gerbang rumah penduduk.

Dalam mengumpulkan makanan yang umumnya terdiri atas kue kaleng dan makanan kering lainnya itu, bhiksu tersebut didampingi beberapa relawan dari vihara.

"Tradisi ini biasa kami lakukan menjelang Hari Raya Waisak yang jatuh pada 17 Mei mendatang," kata Go Tung Buk, pendeta pada Vihara Cetiya Gangga Ratava, di sela-sela kegiatan berlangsung.

Dia menyebutkan, makanan yang berhasil dikumpulkan sang bhiksu, nantinya akan dibagikan kembali kepada umat yang benar-benar membutuhkan.

"Setelah sempat dicicipi oleh sang bhiksu, makanan itu nantinya akan dikembalikan lagi kepada umat Budha," ujarnya.

Ia mengatakan, tradisi mengumpulkan makanan yang disebut "Pindapata", merupakan cara pendekatan yang dilakukan pemimpin spiritual Budha kepada umatnya, dan ini sudah berlangsung secara turun-temurun.

"Pindapata" berasal dan dua kata, yaitu pinda dan patta. Pinda berarti gumpalan/bongkahan (makanan) dan patta berarti mangkuk tempat makanan.

"Jadi 'pindapata' dapat diartikan pengumpulan makanan dengan menggunakan mangkuk oleh para biksu dari rumah ke rumah penduduk," ujarnya.

Dikatakan, banyak manfaat yang dapat diperoleh melalui "Pindapata", yakni tidak hanya bagi para bhiksu atau bhikhu, tetapi juga umat Budha dalam memperoleh kesempatan untuk berbuat baik atau berderma.

"Ini juga merupakan langkah untuk melestarikan Budha Dharma yang merupakan kewajiban kita semua," ujar Tung Buk.

Ditanya tentang puncak dari hajatan itu dilakukan di Puri Gianyar, Tung Buk menjelaskan, karena para tokoh di puri tersebut menurut kepercayaan umat Budha merupakan "atasan" dari mereka.

"Kepercayaan kami, tokoh puri itu adalah 'atasan' kami di Gianyar. Jadi kami melaksanakan tradisi itu di Puri Gianyar," ujarnya menjelaskan. (*)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026