"Pagi ini, sebagian besar mata uang di kawasan Asia bergerak menguat terhadap dolar AS, situasi itu menjadi salah satu sentimen positif terhadap rupiah untuk menguat," kata Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih di Jkaarta, Rabu.
Menurut dia, harga minyak mentah dunia yang cenderung mulai pulih menjadi salah satu faktor penopang penguatan mata uang itu, jenis WTI relatif bertahan pada level 47,07 dolar AS per barel dan harga Brent berada di level 49,61 dolar AS per barel.
Ia mengemukakan bahwa dalam sepekan terakhir harga minyak mentah mencatatkan kenaikan dari posisi terendahnya untuk jenis WTI sebesar 44 dolar AS per barel karena faktor musiman liburan musim panas.
Di sisi lain, ia mengatakan bahwa meningkatnya kepemilikan investor asing di aset berdenominasi rupiah juga turut menjadi penopang bagi mata uang rupiah. Data Direktorat Jendral Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementrian Keuangan per 3 Juli 2017 mencatat posisi kepemilikan asing sebesar Rp770,15 triliun, naik dari posisi pada akhir Desember 2016 sebesar Rp.665,81 triliun.
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menambahkan bahwa seiring dengan pergerakan harga minyak mentah dunia yang relatif stabil membuat mata uang berbasis komoditas seperti rupiah mengalami apresiasi terhadap dolar AS.
Ia memproyeksikan bahwa kurs rupiah akan bergerak di kisaran Rp13.420-Rp13.369 per dolar AS dengan potensi menguat. Pelaku pasar diharapkan tetap mencermati dan waspadai berbagai sentimen yang dapat membuat arah rupiah menjadi berbalik arah. (WDY)
Pewarta: Pewarta: Zubi MahrofiEditor : I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.