"Rupiah mulai kembali mendapatkan momentum penguatannya, sentimen harga komoditas yang masih optimistis meningkatkan daya tarik aset berdenominasi rupiah," kata ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Senin.
Ia menambahkan bahwa meredanya ketidakpastian global juga mengembalikan kepercayaan Bank Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonom dalam negeri. Bank Indonesia menyatakan ada sedikit ruang pelonggaran moneter.
Dari eksternal, lanjut dia, data ekonomi Amerika Serkat yang di bawah ekspektasi, turut menjadi salah satu faktor penekan dolar AS yang sejalan juga dengan penurunan imbal hasil US Treasury.
Ia memaparkan bahwa tingkat pengangguran AS naik ke 4,7 persen pada Desember 2016 dari sebelumnya 4,6 persen, sementara tingkat pertambahan tenaga kerja non-pertanian Amerika Serikat yang di bawah ekspektasi pasar.
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menambahkan bahwa pergerakan rupiah juga memanfaatkan kondisi kenaikan defisit neraca perdagangan Amerika Serikat yang diikuti dengan penurunan data "factory orders" sehingga laju dolar AS cenderung tertekan.
Di sisi lain, lanjut dia, ketidakpastian mengenai hubungan dagang Amerika Serikat-Tiongkok turut membuat pelaku pasar lebih memilih pasar negara berkembang.
"Tidak hanya itu, belum adanya realisasi dari kebijakan-kebijakan presiden terpilih Donald Trump membuat efek Trump mulai melemah, dan membuat para investor kembali berinvestasi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia," katanya. (WDY)
Pewarta: Pewarta: Zubi MahrofiEditor : I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.