Denpasar (Antara Bali) - Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia menggelar diskusi terbuka kepada konsumen yang menggunakan rokok elektrik (Rotrik) di Pulau Dewata, bersama Asosiasi Vaporiser Bali (AVB) untuk membahas hasil kajian keamanan dan resiko penggunaan alat itu.

"Acara ini sebagai rangkaian sosialisasi terkait Rotrik yang sebelumnya pernah dilakukan YPKP di Jakarta, untuk bertukar pikiran terkait keamanan rokok elektrik ini," ujar drg Amalia, salah satu peneliti dari YPKP Indonesia di Denpasar, Selasa.

Acara yang dihadiri kurang lebih 50 orang itu, pihaknya mengatakan berdasarkan hasil penelitian di Italia menyumpulkan bahwa Rotrik merupakan alternatif pengganti rokok konvensional (tembakau) yang memiliki resiko lebih tinggi.

Oleh sebab itu, dengan didasari keprihatinan YPKP inilah bekerja sama dengan tim Akademik Universitas Pajajaran Bandung untuk melakukan kajian penggunaan Rotrik ini.

"Adapun hasil penelitian ini menunjukkan adanya kebutuhan standarisasi produk Rotrik yang saat ini beredar di Tanah Air untuk memastikan keamanannya," katanya lagi.

Selain itu, kajian yang dilakukan YPKP ini didasarkan keprihatinannya terhadap tingginya angka perokok konvensional di Indonesia.

"YPKP melihat banyak perokok di Indonesia mulai menyadari bahaya rokok, namun kecanduan nikotin sangat sulit dilepas mereka untuk berhenti," ujarnya lagi.

Demikian, DR Inne S. Sasmita yang juga peneliti dari YPKP menilai, hasil profil kajian kromatografi atas kajian cairan dan uap rokok elektrik itu mendapati adanya kandungan UP propyline glycol, gliserin naturan atau rasa buah dan pemanis pada cairan likuit Rotrik itu yang dinilai zat tidak berbahaya dan aman dikonsumsi manusia.

"Kemungkinan bahaya yang ditimbulkan hanya saat zat tersebut terdegradasi menjadi zat lain, namun hal ini hanya didapat pada tujuh jenis cairan likuit rokok elektrik yang ada di Indonesia jika dipanaskan dengan suhu tinggi," katanya.

Selain itu, kajian uap yang dilakukan pada Rotrik yang menggunakan teknologi dipanaskan (bukan dibakar) diketahui adanya penurunan konsentrasi zat berbahaya dibandingkan menggunakan bahan baku rokok dari tembakau yang di bakar.

"Untuk itu, saya berharap pemerintah menyikapi hadirnya Rotrik di Indonesia secara bijak dan ikut melakukan pengkajian sebelum memformulasikan sebuah kebijakan," ujar Inne. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Made Surya

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2016