Canggu (Antara Bali) - Pawai ogoh-ogoh pada malam pengerupukan sebelum Hari Suci Penyepian 1933 Saka, di Canggu, Kabupaten Badung, Bali, diusung umat lima agama sebagai manifestasi persaudaraan dan kerukungan umat beragama selama ini.
"Kami memang selalu bahu-membahu merancang dan membuat ogoh-ogoh tiap tahun. Semuanya dilakukan secara ikhlas dan penuh kesadaran, tidak masalah apakah dia itu pemeluk agama Kristen, agama Islam, Buddha, atau Katolik. Sama-sama membantu saudara-saudara yang melaksanakan Nyepi," kata salah satu tokoh masyarakat di Kompleks Canggu Permai, Gufron, Jumat petang.
Warga di kompleks perumahan yang seluruhnya tergabung dalam satu banjar (dusun adat) itu membuat sembilan ogoh-ogoh dengan berbagai rupa dan rancangan. "Biayanya ditanggung sama-sama," katanya.
Saat diarak pada malam pengerupukan, kesembilan ogoh-ogoh hasil kreasi mereka itu juga berbaur dan mendapat tempat serta sambutan yang sama meriah seperti hasil kreasi dari banjar lain. Tidak saja itu, para lelaki muda pengusungnya juga campuran umat lima agama yang ada di kompleks perumahan itu.
Semuanya berpakaian adat dan mengenakan kaus bertuliskan nama banjar mereka dengan iringan tetabuhan gamelan dan kelompok pengiring yang seluruhnya adalah pemudi (teruni) dari banjar yang sama.
"Rencananya kami akan membantu pecalang banjar kami untuk mengamankan dan menjaga kekhidmatan pelaksanaan Nyepi besok. Supaya saudara kita yang merayakan hari besar agama Hindu Dharma itu bisa lebih khusuk dalam melaksanakan kewajibannya itu," kata Gufron.
Walau ditingkahi rintik hujan gerimis, keriaan dan keceriaan merayakan malam pengerupukan itu tetap terjadi. Tiap sebentar terdengar sorak-sorai kegembiraan jika satu sekaha (paguyuban) taruna-teruni satu banjar mengeluarkan kebolehannya, di antaranya memutar-mutar ogoh-ogoh itu.
Di Kota Denpasar, belasan ogoh-ogoh dengan rancangan yang artistik dan dilengkapi dengan pergelaran seni tari sebagai latar tema menyedot perhatian para penonton itu. Saban tahun Kota Denpasar menyelenggarakan pawai ogoh-ogoh pada malam pengerupukan sebagai bentuk apresiasi kepada seni yang juga menjadi roh pelaksanaan Hari Suci Penyepian.
Gubernur Bali, Mangku Pastika, bersama istrinya, Ayu Pastika, menyaksikan pawai ogoh-ogoh itu dari satu lokasi di sudut rumah dinasnya yang juga terletak di lingkungan Lapangan Puputan Badung itu.
Kali ini, empat kecamatan yang berada dalam lingkungan Kota Denpasar mempersembahkan banjar-banjar yang ogoh-ogohnya terpilih untuk ditampilkan dalam pawai itu. Salah satunya adalah Banjar Dauh Tangluk, Desa Kesiman, yang mengusung ogoh-ogoh bertema pertarungan Bhuta Kala dengan seorang ksatria.
Tiap ogoh-ogoh dipanggil panitia pelaksana dari keempat penjuru secara bergantian. Karena begitu antusias untuk bisa melihat ogoh-ogoh yang diarak memakai rangka dari bambu, sebagian penonton merangsek sampai ke tengah lingkaran tempat Patung Catur Muka berada sehingga menghalangi prosesi pengarakan.
Sanggar Tari Putra Kencana menjadi pembuka kontingen dari salah satu desa dalam lingkungan Puri Kesiman itu. Seni tari yang ditampilkan juga cukup menyita perhatian penonton karena terdapat atraksi penyemburan minyak tanah untuk membentuk nyala api.
Ogoh-ogoh dari banjar itu berkeliling dua kali di perempatan Patung Catur Muka dan digoyang ke berbagai penjuru sehingga kesan "pertarungan" di antara ksatria dan Bhuta Kala itu bisa lebih realistik.(*)
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2011
"Kami memang selalu bahu-membahu merancang dan membuat ogoh-ogoh tiap tahun. Semuanya dilakukan secara ikhlas dan penuh kesadaran, tidak masalah apakah dia itu pemeluk agama Kristen, agama Islam, Buddha, atau Katolik. Sama-sama membantu saudara-saudara yang melaksanakan Nyepi," kata salah satu tokoh masyarakat di Kompleks Canggu Permai, Gufron, Jumat petang.
Warga di kompleks perumahan yang seluruhnya tergabung dalam satu banjar (dusun adat) itu membuat sembilan ogoh-ogoh dengan berbagai rupa dan rancangan. "Biayanya ditanggung sama-sama," katanya.
Saat diarak pada malam pengerupukan, kesembilan ogoh-ogoh hasil kreasi mereka itu juga berbaur dan mendapat tempat serta sambutan yang sama meriah seperti hasil kreasi dari banjar lain. Tidak saja itu, para lelaki muda pengusungnya juga campuran umat lima agama yang ada di kompleks perumahan itu.
Semuanya berpakaian adat dan mengenakan kaus bertuliskan nama banjar mereka dengan iringan tetabuhan gamelan dan kelompok pengiring yang seluruhnya adalah pemudi (teruni) dari banjar yang sama.
"Rencananya kami akan membantu pecalang banjar kami untuk mengamankan dan menjaga kekhidmatan pelaksanaan Nyepi besok. Supaya saudara kita yang merayakan hari besar agama Hindu Dharma itu bisa lebih khusuk dalam melaksanakan kewajibannya itu," kata Gufron.
Walau ditingkahi rintik hujan gerimis, keriaan dan keceriaan merayakan malam pengerupukan itu tetap terjadi. Tiap sebentar terdengar sorak-sorai kegembiraan jika satu sekaha (paguyuban) taruna-teruni satu banjar mengeluarkan kebolehannya, di antaranya memutar-mutar ogoh-ogoh itu.
Di Kota Denpasar, belasan ogoh-ogoh dengan rancangan yang artistik dan dilengkapi dengan pergelaran seni tari sebagai latar tema menyedot perhatian para penonton itu. Saban tahun Kota Denpasar menyelenggarakan pawai ogoh-ogoh pada malam pengerupukan sebagai bentuk apresiasi kepada seni yang juga menjadi roh pelaksanaan Hari Suci Penyepian.
Gubernur Bali, Mangku Pastika, bersama istrinya, Ayu Pastika, menyaksikan pawai ogoh-ogoh itu dari satu lokasi di sudut rumah dinasnya yang juga terletak di lingkungan Lapangan Puputan Badung itu.
Kali ini, empat kecamatan yang berada dalam lingkungan Kota Denpasar mempersembahkan banjar-banjar yang ogoh-ogohnya terpilih untuk ditampilkan dalam pawai itu. Salah satunya adalah Banjar Dauh Tangluk, Desa Kesiman, yang mengusung ogoh-ogoh bertema pertarungan Bhuta Kala dengan seorang ksatria.
Tiap ogoh-ogoh dipanggil panitia pelaksana dari keempat penjuru secara bergantian. Karena begitu antusias untuk bisa melihat ogoh-ogoh yang diarak memakai rangka dari bambu, sebagian penonton merangsek sampai ke tengah lingkaran tempat Patung Catur Muka berada sehingga menghalangi prosesi pengarakan.
Sanggar Tari Putra Kencana menjadi pembuka kontingen dari salah satu desa dalam lingkungan Puri Kesiman itu. Seni tari yang ditampilkan juga cukup menyita perhatian penonton karena terdapat atraksi penyemburan minyak tanah untuk membentuk nyala api.
Ogoh-ogoh dari banjar itu berkeliling dua kali di perempatan Patung Catur Muka dan digoyang ke berbagai penjuru sehingga kesan "pertarungan" di antara ksatria dan Bhuta Kala itu bisa lebih realistik.(*)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2011