Denpasar (Antara Bali) - Sanggar Raka Rai dari Desa Bangbang, Kabupaten Bangli, memadukan gamelan selonding dan gambang dengan tarian inovatif dalam ajang Bali Mandara Mahalango III di Taman Budaya, Denpasar.

"Di sini kami berinovasi dengan olah vokal dan tarian inovatif, tetapi musiknya yang tradisi," kata Dewa Gede Putra Yuda, pengurus Sanggar Raka Rai, di sela-sela pementasannya, di Kalangan (panggung) Angsoka, Taman Budaya Denpasar, Kamis.

Menurut Putra Yuda, gamelan selonding dan gambang merupakan jenis tabuh klasik yang berasal dari Desa Tenganan Pagringsingan, Kabupaten Karangasem.

"Tetapi kali ini kami mencoba berinovasi memadukan kedua instrumen itu. Kami mencari ciri khas atau karakter dari gamelan selonding yang terbuat dari bilah-bilah besi dengan gambang yang terbuat dari bilah bambu," ucapnya.

Di samping itu, lanjut dia, kalau di Tenganan itu gamelan dipadukan dengan lagu keagamaan jenis "kidung dan kekawin", tetapi untuk pementasan di Bali Mandara Mahalango tersebut tidak menggunakan kedua jenis lagu itu. "Di sini kami lepas dari itu, cuma berpedoman dari sana (kidung dan kekawin-re) kami olah yang kami punya untuk diisi jalinan vokal yang pas," katanya.

Di sisi lain, penampilan tabuh klasik yang dibawakan Sanggar Raka Rai semakin apik karena dipadukan dengan tarian inovatif yang menceritakan tentang "Sundih" dengan pesan moralnya untuk mencari jiwa yang terang.

"Di Bali, sundih merupakan alat penerangan tradisional yang umumnya dipakai untuk mencari binatang-binatang kecil di sawah seperti belut dan jangkrik," ujarnya.

Putra Yuda tidak memungkiri untuk menguasai kedua jenis tabuh klasik (gamelan gambang dan selonding-red) memang lebih sulit dibandingkan dengan tabuh Bali lainnya, terutama untuk peralihan nada-nadanya.

"Dalam Gambang tidak seperti gong kebyar yang memiliki lima nada, sedangkan gambang ada pelog tujuh nada dan banyak aturan lainnya," ucapnya sembari menyebutkan untuk pementasan tersebut pihaknya berlatih selama dua bulan. (WDY)

Pewarta: Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2016