Klungkung (Antara Bali) - Museum Usadha berdiri di kawasan Banjarangkan, Klungkung, Bali, sebagai langkah untuk melestarikan tanaman obat yang digunakan bahan baku jamu tradisional sesuai resep peninggalan leluhur.

"Museum Usadha ini sudah lama direncanakan karena saya memang suka tanaman dan mengoleksi lebih dari 200 ramuan obat tradisional. Sejak tahun 1990-an, saya mulai mengumpulkan tanaman obat sebagai bahan baku dan akhirnya museum diresmikan pada tahun 2013," kata pendiri Museum Usadha Indrawati Gunarsa di Semarapura, Sabtu.

Museum Usadha, ujar Indrawati, dibangun pada komplek Museum Seni Lukis Klasik Bali Nyoman Gunarsa. Kecintaan pada tanaman dan ketidakasingan dengan tradisi mengkonsumsi jamu tradisional, menjadi latar belakang utama didirikannya Museum Usadha.

"Berdasarkan pada kecintaan tanaman, maka sudah lama saya mengumpulkan tanaman obat dari berbagai daerah. Negeri kita ini kaya dengan tanaman obat. Setiap jengkal tanah mengandung obat. Kekayaan Indonesia pada rempah-rempah yang membuat negeri kita diperebutkan penjajah," ucap dia.

Adapun tanaman yang sudah dibudidayakan mencakup brotowali, `piduh`, daun sembung, mahkota dewa, kumis kucing, kunyit putih, sambiloto, kelor lanang Dayak, temu mangga, `suweg`, kunyit gonseng dan ratusan jenis tanaman obat lainnya. Tanaman obat itu ditanam langsung di tanah dan dibiarkan bertumbuh secara alami.

Kegiatan mengumpulkan tanaman obat dari berbagai daerah, dilakukan sebagai contoh pada masyarakat sekitar. Contoh agar masyarakat tidak mengabaikan tanaman obat yang bisa dimanfaatkan untuk pengobatan keseharian.

"Zaman ketika saya masih kecil di Temanggung, Jawa Tengah, keluarga saya sudah menanam tanaman obat yang sekarang disebut sebagai apotek hidup. Kegiatan menanam atau membuat obat sendiri dari tanaman di pekarangan, sudah tidak asing bagi saya. Sekarang harus dimasyarakatkan lagi apotek hidup, karena `local genius` mestinya diangkat," ujarnya.

Ketika akhirnya, lanjutnya, dirinya tinggal dan menetap di Klungkung Bali, kecintaan pada tanaman itu tidak pupus. Apalagi lokasi tempat tinggal di Museum Seni Lukis Klasik Bali Nyoman Gunarsa itu luasnya mencapai sekitar lima hektare. Aktivitas bertanam pun bisa leluasa dilakukan.

Bahkan, tidak hanya tanaman obat keluarga, jenis buah-buahan langka pun menjadi koleksi yang sengaja ditanam untuk menghijaukan museum. Bibit tanaman buah langka itu sengaja dicari dari Kebun Raya Bogor atau sentra tanaman di berbagai daerah.

"Sudah tak terhitung sekarang jumlah tanaman buah langka itu. Buah-buahan yang menjadi favorit misalnya kepel yang merupakan tanaman sejak zaman Majapahit, juwet putih, sawo beludru dan wani dengan kualitas manis grade utama," katanya. (WDY)

Pewarta: Pewarta: Tri Vivi Suryani

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2016