Klungkung (Antara Bali) - Maestro seni lukis Nyoman Gunarsa menyebutkan pengakuan dan penghargaan kepada Kamasan sebagai pusat seni lukis klasik sehingga ditetapkan menjadi warisan Budaya Nasional (National Cultural Heritage) itu, sebenarnya kurang tepat serta salah alamat.

"Saya yang sesungguhnya mengajukan agar seni lukis klasik Bali di Museum Seni Lukis Klasik Bali Nyoman Gunarsa (MSLKBNM) diakui sebagai warisan Budaya Nasional dan warisan Budaya Dunia (World Cultural Heritage) dengan berbagai bukti karya benda maupun karya tak benda," kata Gunarsa di Banjarangkan, Klungkung, Kamis.

Dia mengatakan, museum itu memang sudah lama mengoleksi karya seni peninggalan berbagai abad, termasuk pada abad XV. Di mana pada abad ini dimulainya masa keemasan peradaban seni klasik di Bali yang berawal dari Kerajaan Gelgel - Klungkung.

Upaya mengoleksi karya seni klasik itu merupakan langkah untuk pelestarian budaya. Bahkan bukan hanya karya lukis, berbagai koleksi seni seperti patung, ukiran, keris, seni wayang, kain songket, cepuk, dan lainnya pun dirawat dengan apik sebagai warisan leluhur yang tak ternilai.

"Penyebutan nama seni lukis klasik Bali pun, saya yang mencetuskan. Dulu seniman Barat atau para pengamat seni, selalu mengatakan karya seni Bali masa lalu itu sebagai seni tradisional. Tidak ada yang menamakan seni klasik. Baru pada tahun 1990-an, saya yang mengangkat nama seni klasik Bali," ujarnya.

Gunarsa melanjutkan, ketika pihaknya tergerak mengajukan agar museum diakui sebagai warisan Budaya Nasional dan warisan Budaya Dunia, ternyata malah Kamasan yang menerima pengakuan itu. Padahal secara realita, jika ditelusuri ke Kamasan, tidak ada lagi produk seni lukis masa klasik di desa itu. Justru mayoritas karya seni modern yang banyak dijumpai di berbagai `art shop` di Kamasan belakangan ini.

Sementara itu, Peter Worsley, Profesor Emeritus Departemen Studi Indonesia, Jurusan Bahasa dan Budaya, Fakultas Seni dan Ilmu Pengetahuan Sosial - Universitas Sidney, mengatakan, tidak ada koleksi lain di Indonesia yang menyaingi pentingnya koleksi seni Bali Museum Gunarsa, kecuali Museum Bali di Denpasar.

Dikatakannya, orang harus melakukan perjalanan ke luar negeri jika ingin menemukan koleksi dengan cakupan dan nilai warisan serupa dengan yang berada di Klungkung ini. Orang harus melakukan perjalanan melintasi dunia di Belanda untuk melihat koleksi kolonial penting yang ditempatkan di Tropenmuseum di Amsterdam, Museum Etnologi di Leiden dan Museum Seni Dunia di Rotterdam. Atau mengunjungi Museum Sejarah Alam di New York - Amerika Serikat, Museum Australia di Sidney dan Galeri Nasional Australia di Canberra - Australia.

"Koleksi MSLKBNM beragam. Variasi dan kualitas karya yang ditampilkan, sebaran budayanya dari seluruh Bali dan kedalaman historisnya memberikan koleksi di MSLKBNM sebuah nilai penting nasional dan internasional, dan membuatnya cocok untuk dipertimbangkan dalam daftar warisan budaya," ucap dia. (WDY)

Pewarta: Pewarta: Tri Vivi Suryani

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2015