Kuta (Antara Bali) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar menyatakan bahwa puncak musim hujan di Provinsi Bali diprediksi terjadi pada Januari-Februari 2016.

Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar, I Nyoman Gede Wiryajaya ditemui di kantor setempat di Tuban, kawasan Kuta, Kabupaten Badung, Selasa, menyatakan bahwa puncak musim hujan itu didahului dengan awal musim hujan yang sudah terjadi pada dasarian (sepuluh hari) kedua pada November 2015.

"Namun awal hujan itu tidak merata dan hanya terjadi di beberapa daerah saja. Kalau puncak musim hujan diperkirakan pada Januari," katanya.

Sejumlah daerah di Bali, lanjut dia, mengalami kemunduran prakiraan hujan sebagai dampak El Nino yang menyebabkan musim hujan mundur mulai 10 hari hingga 50 hari.

Daerah yang mengalami kemunduran hingga 50 hari itu di antaranya Jembrana bagian selatan, Tabanan bagian selatan dan Badung bagian utara serta Tabanan bagian utara yang seharusnya diperkirakan sudah hujan pada 10 hari pertama bulan Oktober namun diperkirakan baru turun hujan pada akhir November ini.

BMKG, lanjut dia, melakukan pencatatan prakiraan musim hujan di sejumlah daerah yang terbagi dalam 15 zona.

Dari ke-15 zona tersebut, kawasan Nusa Penida merupakan daerah yang paling lama mengalami rentang waktu cuaca panas atau baru diperkirakan terjadi awal musim hujan pada minggu pertama Desember.

Meski beberapa daerah di Bali sudah turun hujan namun hal itu belum terjadi merata dan suatu daerah belum dikategorikan memasuki musim hujan apabila kuantitas air hujan sudah lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.

Memasuki musim hujan itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan antisipasi dampak dari perubahan cuaca tersebut mulai dari bencana hingga kesehatan. (WDY)

Pewarta: Pewarta: Dewa Wiguna

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2015