Denpasar (Antara Bali) - Seniman mancanegara yang menggelar pameran bersama di Bentara Budaya Bali (BBB), lembaga kebudayaan nirlaba Kompas-Gramedia di Ketewel, Kabupaten Gianyar ikut menyuarakan keprihatinan akan masa depan bumi dan kemanusiaan.

"Pameran bersama yang melibatkan 127 seniman dari 23 negara di belahan dunia menampilkan 153 lukisan dan karya instalasi cat air berlangsung selama sepuluh hari, 24 Oktober - 2 November 2015," kata kurator pameran tersebut Efix Mulyadi di Denpasar, Jumat.

Pameran yang mengusung tema "Love Earth Through Art" (Love@rth) itu digelar oleh International Watercolor Society (IWS) Indonesia merupakan bagian dari kerja kebudayaan.

"Pelaksanaan pameran seni hanya bergerak di dalam tataran simbolik, dengan perspektif nilai-nilai yang diperjuangkan, atau menjadi semacam `ruwatan` untuk membersihkan dunia dari sifat loba dan tamak, yang menjadi akar dari kejahatan lingkungan alam," katanya.

Pelaksanaan pameran tersebut merujuk pada dua kata kunci yakni `cinta` dan `bumi`, serta penggunaan tanda baca `@`. Tanda baca `@` memberi asosiasi pada masa depan, yakni zona waktu yang didahului oleh era internet, digital, dan teknologi yang mendorong untuk melihatnya sebagai masalah manusia di masa mendatang.

"Pesannya jelas yakni kelangkaan cinta akan menghancurkan dunia seisinya, sebaliknya kehadiran cinta akan menyembuhkan," tutur Efix Mulyadi.

Hal itu perlu disadari mengingat, penghancuran bumi masih terus berlangsung dengan berbagai cara, antara lain lewat pembabatan hutan dan penambangan secara besar-besaran.

"Kita sering mendengar bahwa kerakusan saling kait dengan absennya rasa cinta kecuali pada diri sendiri. Hanya orang-orang yang sangat mementingkan diri sendiri yang bisa rakus," katanya.

Oleh sebab itu kampanye penyadaran tentang pentingnya merawat serta memulihkan sumber daya alam dan lingkungan harus terus digemakan. Melalui pameran lukisan cat air "LovE@rth" diharapkan mampu menyuarakan keprihatinan akan masa depan bumi dan manusia, ujar Efix Mulyadi.  (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2015