Denpasar (Antara Bali) - Pemerintah Provinsi Bali menyatakan lebih memilih orang lokal untuk mengelola manajemen Rumah Sakit Bali Mandara yang akan dibuat berstandar internasional.

"Kami ingin yang simpel dulu dan lebih sederhana, yang lebih sederhana adalah memanfaatkan orang lokal dulu. Tentu kami tidak menutup kemungkinan bagi partisipasi asing," kata Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Bali Putu Astawa, di Denpasar, Kamis.

Namun, ucap dia, tetap ada syaratnya tidak boleh melanggar aturan dan dapat memberikan keuntungan bersama. "Di dalam manajemen, perlu ada skema pembagian keuntungan supaya win-win solution," ucapnya.

Manajemen lokal yang dimaksud, lanjut Astawa, tidak terbatas pada orang Bali yang memiliki kemampuan untuk mengelola rumah sakit berstandar internasional, termasuk juga para ahli dari berbagai wilayah di nusantara. Tetapi jika memang ada orang Bali yang ahli, tentunya akan diutamakan.

"Jika kita pertama-tama sudah menggunakan manajemen dari pihak asing, saya kira memerlukan kajian yang lebih mendalam dan perlu kajian berjenjang yang membutuhkan waktu lebih lama," ujarnya.

Oleh karena itu, kata Astawa, diutamakan dulu untuk memanfaatkan tenaga lokal dalam mengelola RS yang akan dibangun di atas lahan seluas 2,95 hektare milik Pemprov Bali itu.

"Di sisi lain, anggaran yang dibutuhkan untuk membiayai pembangunan RSI itu total Rp206 miliar, dan tahun ini kami anggarkan Rp55,2 miliar. Sedangkan sisanya pada 2016 karena dianggarkan menggunakan anggaran tahun jamak (multi years)," katanya.

Sebelumnya Asisten Bidang Pembangunan dan Ekonomi Pemprov Bali Ketut Wija mengatakan kalangan investor dari Malaysia tertarik untuk ikut mengelola Rumah Sakit Internasional Bali Mandara yang tahun ini dimulai tahap pembangunannya.

Pemprov Bali, lanjut dia, sempat menawarkan potensi investasi di Bali itu lewat Lembaga Pertubuhan Warisan Kebudayaan Malaysia-Makassar yang mengadakan kunjungan ke Kantor Gubernur Bali beberapa waktu lalu.

"Lembaga Pertubuhan itu terdiri atas para pengusaha atau investor dan sudah membawa investasi ke tempat-tempat lain seperti Makassar," ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, tambah Wija, mereka berjanji akan datang kembali ke Pulau Dewata dan pertemuan saat itu merupakan penjajakan awal. (WDY)

Pewarta: Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2015