Denpasar (Antara Bali) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali mencatat, perolehan devisa dari hasil perkebunan rakyat daerah ini mampu menembus angka satu juta dolar AS selama lima bulan periode Januari-Mei 2014, naik 129 persen dari periode sama sebelumnya yang hanya 442 ribu dolar.

"Besar perolehan devisa hasil perkebunan itu, berkat kakao panenan masyarakat Bali semakin gencar memasuki pasar ekspor dengan tujuan utama ke Amerika Serikat," kata Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bali I Dewa Made Buana Duwuran di Denpasar, Minggu.

Kakao merupakana matadagangan jenis baru dari Bali, dalam perolehan devisanya mampu menyalip hasil perdagangan kopi yang sudah menjadi mata dagangan tradisional yang dikapalkan ke pasaran luar negeri.

Sebagaimana catatan Disperindag Bali menyebutkan bahwa, realisasi perdagangan kakao mencapai 67 ton bernilai 586.708 dolar, kopi hanya terjual 66 ton seharga 426.580 dolar dan vanili 69 kg senilai 2.415 dolar (Januari-Mei 2014).

"Dengan lancarnya pemasaran hasil perkebunan rakyat itu diharapkan petani akan lebih bergairah untuk memelihara tanamannya sehingga menghasilkan buah yang berkualitas," ujar Dewa Made Buana.

Ia mengakui Kakao produksi petani daerah ini baru memulai memasuki pasar ekspor dengan tujuan utama adalah konsumen Amerika Serikat, Australia dan Jerman, tentu dalam jumlah masih terbatas yakni masih dalam belasan ton per bulan.

Dewa Made Buana Duwuran menjelaskan, ada tiga daerah yang mengembangkan tanaman kakao di daerah ini yakni petani di Kabupaten Tabanan seluas 5.063 hektare, menyusul Jembrana, 3.555 hektare, Buleleng 1.258 hektare sisanya di Badung, Klungkung, Bangli dan Karangasem.

Harga hasil perkebunan ini di tingkat petani di daerah ini cukup stabil yakni tercatat Rp36.700/kg fermented dan Rp34.200/kg asalan. Harga yang diterima petani itu cukup menggairahkan saat sekarang ini, kata dia. (WDY)

Pewarta: Oleh I Ketut Sutika

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2014