Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan penjaga budaya Bali akan menurun jika Nyoman dan Ketut atau anak ketiga dan keempat di Pulau Dewata berkurang.
“Kalau ini tidak dikelola dengan baik maka Nyoman dan Ketut hilang, itu sebenarnya penjaga budaya kita, kalau dia menurun siapa yang akan mengurus budaya Bali ini,” kata Gubernur Koster di Denpasar, Rabu.
Gubernur Bali mengungkapkan itu menyikapi rendahnya pertumbuhan penduduk Bali yang hanya 0,66 persen pada 2025, bahkan yang bertumbuh adalah penduduk pendatang bukan populasi penduduk asli Bali yang menjalankan tradisi dan budaya.
“Ada kegiatan odalan, purnama, tilem, Galungan, Kuningan, Saraswati, segala macamnya itu yang harus kita waspadai, kalau sampai ini tidak berjalan dengan baik secara berkelanjutan, ke depan budaya Bali ini akan hilang,” ujarnya.
Gubernur Koster menyakini jika penjaga budaya atau penduduk Bali yang menjalankan upacara ini hilang maka jangan berharap Bali masih memiliki masa depan.
Sebab, selama ini kehidupan sosial dan ekonomi Bali tumbuh berakar dari budaya sebagai hulunya dan berpotensi kalah saing dari negara lain ketika itu hilang.
Pemprov Bali mengajak masyarakat tidak terlalu bangga dengan prestasi Bali yang berhasil menjalankan program pemerintah sejak era Presiden Soeharto yaitu mendorong Keluarga Berencana (KB) dua anak.
Terbukti atas gencarnya program ini, BPS memprediksi pertumbuhan penduduk Bali akan terus melambat hingga 2050 jika tidak diantisipasi.
“Jangan sampai seperti di Jepang fenomenanya sekarang tidak mau menikah, atau mau nikah tapi tidak mau punya anak, atau mau menikah tapi punya anak cuma satu, maka dia defisit (penduduk) Tokyo itu, maka dia memberikan insentif untuk orang mau datang,” kata Koster.
Berkaca dari kebijakan negara lain, Pemprov Bali terus mendorong penduduk melakukan KB empat anak sehingga nama Nyoman dan Ketut tetap ada.
Saat ini penduduk dengan nama depan Ketut atau anak keempat hanya tersisa 4,5 persen dari total penduduk Bali yang sebanyak 4,4 juta orang.
Sejak periode pertama menjabat, Gubernur Koster terus menggaungkan pelestarian anak Nyoman dan Ketut, dan tahun ini ia berencana memulai pemberian insentif bagi pemilik nama tersebut.
“Kalau tidak kita dorong ini yang paling pertama punah Ketut, tidak sampai 50 tahun lagi Ketut ini tinggal di museum dia, kemudian Nyoman yang kedua terancam karena saat ini paling banyak itu adalah anak pertama (Putu/Wayan/Gede) persentasenya paling tinggi 39 persen jadi ini gambaran buruk demografi kita di Bali,” ujarnya.
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2026