“Bentuk karakternya agar menambah semangat, menguatkan ketika menghadapi tantangan yang sulit,” kata Ketua Aptisi Provinsi Bali Prof Dr I Made Suarta di Denpasar, Bali, Kamis.
Rektor Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali itu menambahkan pendidikan karakter tersebut dapat dipraktikkan langsung di bangku kuliah, tanpa perlu masuk satuan kredit semester (SKS).
Ia menilai gaya mengajar juga berperan dalam mendidik mahasiswa dan mahasiswi, misalnya layaknya orang tua di rumah.
“Tujuannya seperti orang tua, mengingatkan lagi tujuan kuliah,” imbuhnya.
Meski belum ada statistik yang menghitung efektivitasnya, ia meyakini pendidikan karakter tersebut berperan besar untuk membentengi diri dari upaya perundungan.
Suarta menambahkan kampus merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya potensi anak bangsa, melahirkan sumber daya manusia berkualitas.
Dengan demikian, kampus harus menjadi tempat yang sehat, termasuk bebas dari perundungan dan kekerasan baik fisik dan psikis.
"Ke depan tanpa pendidikan karakter yang kuat, bisa saja kita akan tersisih. Mari menjadi bagian dari perubahan, tapi tidak menjadi korban perubahan," ucapnya.
Aptisi Bali saat ini menaungi 51 perguruan tinggi swasta di Provinsi Bali.
Kekerasan psikis, terutama perundungan saat ini menjadi perhatian semua pihak, termasuk kalangan kampus.
Sebelumnya, seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bali berinisial TAS tewas karena jatuh dari lantai empat kampusnya.
Aparat kepolisian dari Kepolisian Sektor Denpasar Barat yang menyelidiki kasus itu tidak menemukan adanya dugaan perundungan sebagai penyebab kematian yang dialami seorang mahasiswa itu.
Meski begitu, beredar viral di media sosial tangkapan layar yang berisi ucapan tanpa empati yang dilontarkan melalui percakapan grup WhatsApp oleh sejumlah mahasiswa yang mengundang kecaman dari warganet.
Baca juga: Unud sebut tak ada tekanan akademik yang dialami TAS
Editor : Widodo Suyamto Jusuf
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2025