Denpasar (Antara Bali) - Gubernur Made Mangku Pastika mengingatkan panitia pengawas pemilu (panwaslu) untuk bertindak tegas dan netral dalam tahapan Pilkada Bali.
"Kesuksesan Pilkada Bali tidak terlepas dari peran panwaslu. Oleh karena itu konsistensi dan ketegasan panwaslu pada aturan menjadi prasyarat penting," katanya saat menyampaikan sambutan pada rapat koordinasi pengawasan Pilkada Bali di Denpasar, Rabu malam.
Menurut mantan Kapolda Bali ini, pilkada langsung yang akan digelar pada 15 Mei 2013 menyimpan potensi konflik yang tinggi karena melibatkan banyak pihak dan seluruh masyarakat.
"Kelompok-kelompok tertentu dapat memanfaatkan peluang ini untuk memperkeruh situasi dan kondisi sosial masyarakat," ucapnya.
Ketika panwaslu menunjukkan sikap inkosistensi terhadap aturan, kata Pastika, maka akan melahirkan ketidakpercayaan masyarakat yang akhirnya menyebabkan instabilitas.
"Saya tekankan Panwaslu Bali harus bekerja dalam koridor yang ditentukan, tegas, netral dan dapat membangun kepercayaan publik. Panwaslu juga wajib menyosialisasikan ketentuan pilkada secara meluas pada masyarakat," ujarnya.
Pastika tidak menginginkan jika aksi anarkis yang terjadi di beberapa daerah di Nusantara akibat kekecewaan pilkada sampai terjadi di Bali.
"Ingat bahwa tantangan untuk menjaga citra Bali yang aman bukan hal yang mudah. Tetapi membutuhkan komitmen, kerja keras, kewaspadaan dan upaya bersama para pemangku kepentingan," ucapnya.
Pihaknya berharap Pilkada Bali yang akan dihelat sebulan ke depan menjadi pesta demokrasi yang berkualitas dalam artian dapat mewadahi keragaman aspirasi masyarakat. "Hal ini sebagai konsekuensi kemajemukan masyarakat di tengah kehidupan demokrasi," ujarnya.
Rapat ini dibuka oleh anggota Badan Pengawas Pemilu Nasrullah dan dihadiri para pemangku kepentingan dari unsur kepolisian, KPU, Panwaslu, pengadilan dan sebagainya. (LHS)
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2013
"Kesuksesan Pilkada Bali tidak terlepas dari peran panwaslu. Oleh karena itu konsistensi dan ketegasan panwaslu pada aturan menjadi prasyarat penting," katanya saat menyampaikan sambutan pada rapat koordinasi pengawasan Pilkada Bali di Denpasar, Rabu malam.
Menurut mantan Kapolda Bali ini, pilkada langsung yang akan digelar pada 15 Mei 2013 menyimpan potensi konflik yang tinggi karena melibatkan banyak pihak dan seluruh masyarakat.
"Kelompok-kelompok tertentu dapat memanfaatkan peluang ini untuk memperkeruh situasi dan kondisi sosial masyarakat," ucapnya.
Ketika panwaslu menunjukkan sikap inkosistensi terhadap aturan, kata Pastika, maka akan melahirkan ketidakpercayaan masyarakat yang akhirnya menyebabkan instabilitas.
"Saya tekankan Panwaslu Bali harus bekerja dalam koridor yang ditentukan, tegas, netral dan dapat membangun kepercayaan publik. Panwaslu juga wajib menyosialisasikan ketentuan pilkada secara meluas pada masyarakat," ujarnya.
Pastika tidak menginginkan jika aksi anarkis yang terjadi di beberapa daerah di Nusantara akibat kekecewaan pilkada sampai terjadi di Bali.
"Ingat bahwa tantangan untuk menjaga citra Bali yang aman bukan hal yang mudah. Tetapi membutuhkan komitmen, kerja keras, kewaspadaan dan upaya bersama para pemangku kepentingan," ucapnya.
Pihaknya berharap Pilkada Bali yang akan dihelat sebulan ke depan menjadi pesta demokrasi yang berkualitas dalam artian dapat mewadahi keragaman aspirasi masyarakat. "Hal ini sebagai konsekuensi kemajemukan masyarakat di tengah kehidupan demokrasi," ujarnya.
Rapat ini dibuka oleh anggota Badan Pengawas Pemilu Nasrullah dan dihadiri para pemangku kepentingan dari unsur kepolisian, KPU, Panwaslu, pengadilan dan sebagainya. (LHS)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2013