Kuta (Antara Bali) - Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Iskandar menyatakan, perusahaan yang dipimpinnya siap menggandeng produsen vaksin di negara-negara berkembang dan negara Islam dalam penelitian dan pengembangan vaksin baru.
    
"Kami berharap Bio Farma sebagai satu-satunya produsen vaksin di Indonesia dapat menjadi 'hub' atau pusat penelitian dan pengembangan vaksin serta berperan sebagai mitra untuk penelitian vaksin baru bagi negara berkembang," katanya kepada ANTARA di Kuta, Minggu.
    
Dia mengemukakan pernyatan tersebut terkait dengan kesiapannya sebagai tuan rumah bagi Pertemuan ke-13 Jaringan Industri Vaksin Negara-negara Berkembang (DCVMN) yang digelar di Bali pada 30 Oktober hingga 2 November 2012.
    
Pertemuan internasional itu sendiri akan diikuti 37 produsen vaksin dari 14 negara berkembang, yakni Argentina, Bangladesh, Brazil, Mesir, India, Iran, Meksiko, Korea Selatan, China, Afrika Selatan, Thailand, Kuba, Vietnam, dan Indonesia selaku tuan rumah.
    
Menurut Iskandar, seluruh produsen vaksin dunia itu memiliki tujuan utama yang relatif sama, yakni meningkatkan ketersediaan dan kualitas vaksin guna tercapainya masyarakat yang sehat di negara-negara berkembang.
    
Secara khusus, dia juga menjelaskan bahwa tujuan lain dari penyelenggaraan pertemuan DCVMN, yakni untuk secara bersama-sama memerangi penyebaran penyakit infeksi yang masih mewabah di berbagai negara berkembang.
    
Langkah itu dilakukan dengan cara meningkatkan kapasitas dan kualitas vaksin serta  meningkatkan penelitian dan pengambangan vaksin sesuai dengan kebutuhan.
    
Selain itu juga pertemuan para produsen vaksin negara-negara berkembang diperlukan untuk mendorong produksi dan distribusi vaksin berkualitas tinggi secara selektif dalam jangka panjang guna  memenuhi target dari program imunisasi nasional bagi Negara-negara tersebut.
    
Sebelumnya, Dirut Bio Farma dalam Pertemuan Global Health Product Development 2012 di Seattle, Amerika Serikat, pada 1-3 Mei 2012 menyampaikan presentasi mengenai capaian dari satu-satunya industri vaksin di Indonesia yang kini berusia 122 tahun itu.
    
Dalam pertemuan internasional itu Iskandar menjelaskan 11 produk yang telah dihasilkan Bio Farma yang kesemuanya telah mendapat pengakuan kelas dunia berupa prakualifikasi Badan Kesehatan Dunia (WHO).
    
Kenyataan ini menjadi satu fokus yang menarik bagi beberapa mitra Bill and Melinda Gates Foundation, penggagas pertemuan internasional di Seattle itu.
    
Mitra-mitra Bill and Melinda Gates Foundation kemudian banyak yang menyatakan tertarik bekerja sama dengan Bio Farma dalam melaksanakan uji klinik (clinical trial) dan pengembangan vaksin.
    
Para panelis pada pertemuan tersebut antara lain diwakili Subhash Kapre (Serum Institute of India), Xiaoming Yang (China National Biotech Group), Akira Homma (Bio-Manguinhos), dan Iskandar (Bio Farma).
    
Pada Pertemuan ke-13 DCVMN di Bali, pihak Bill and Melinda Gates Foundation juga dijadwalkan akan hadir sebagai salah satu peserta, diwakili pimpinannya, Dr Kim Bush. Pertemuan internasional itu akan dihadiri oleh lebih dari 100 periset dan ahli vaksin dari negara-negara berkembang.(M038/T007)

Pewarta:

Editor : Nyoman Budhiana


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2012