Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali optimis ekonomi di Pulau Dewata akan tumbuh positif pada 2021 ini, didukung perkiraan selesainya proses pemberian vaksin kepada warga dan penurunan kasus COVID-19.

"Dengan demikian, akan mengembalikan aktivitas ekonomi di berbagai sektor, termasuk aktivitas konsumsi, investasi, kinerja fiskal, ekspor dan impor," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho di Denpasar, Selasa.

Pihaknya memperkirakan pertumbuhan positif akan dimulai pada triwulan II-2021, sehingga secara keseluruhan tahun 2021 perekonomian Bali diprediksi tumbuh positif.

Trisno mengemukakan ekonomi Bali pada triwulan IV 2020 tumbuh minus 12,21 persen (yoy), sedikit membaik dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar minus 12,32 persen (yoy).

"Secara keseluruhan tahun, ekonomi Bali mengalami kontraksi atau tumbuh minus 9,31 persen pada tahun 2020. Dari sisi penggunaan, kontraksi tahunan tertinggi terjadi pada komponen impor luar negeri (-78,34 persen) dan ekspor luar negeri (-76,23 persen," ujarnya pada acara Obrolan Santai BI Bareng Media (OSBIM) itu.

Selanjutnya komponen investasi (-12,21 persen) dan konsumsi rumah tangga (-3,65 persen). Sementara konsumsi pemerintah masih tumbuh positif 0,17 persen (yoy).

Baca juga: BI prediksi ekonomi di Bali mulai tumbuh positif pada triwulan II 2021

Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruhnya mengalami pertumbuhan negatif, dengan kontraksi tahunan terdalam pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan (-31,79 persen), akomodasi makan dan minum (-27,52 persen) serta pengadaan listrik, air, dan gas (-16,49 persen).

Selanjutnya Trisno pun merekomendasikan lima langkah strategis untuk pemulihan ekonomi Bali. Pertama, mendorong pelaku pariwisata untuk memperoleh sertifikat CHSE untuk meyakinkan bahwa Bali siap menerima wisatawan.

"Kedua, mendorong UMKM onboarding sehingga memperluas pemasaran. Ketiga, mempercepat realisasi belanja daerah," ujarnya.

Keempat, mendorong sektor pertanian untuk menerapkan GAP (Good Agriculture Practice), menggunakan teknologi digital dalam berproduksi (digital farming) dan memasarkan produknya melalui e-commerce. Kelima, mendorong pembayaran secara non tunai, utamanya menggunakan QRIS.

Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda mengatakan pemulihan ekonomi di Bali lebih lambat dibandingkan ekonomi nasional karena mengingat Bali sangat tergantung pada pariwisata.

Baca juga: BI Bali targetkan 300 ribu "merchant" QRIS di 2021

Dia menambahkan, wisatawan domestik diperkirakan pulih lebih awal dan berpotensi menjadi penopang pariwisata Bali, sedangkan kunjungan wisman diproyeksikan belum bisa pulih untuk tahun ini.

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Adi Lazuardi


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2021