Sejumlah pemuda warga Desa Adat Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, mengikuti tradisi Mesiat Geni atau Perang Api yang dilakukan sebagai rangkaian ritual persembahyangan bulan purnama keempat dalam penanggalan Bali.

"Tradisi ini harus dan wajib kami lakukan untuk menyambut kedatangan dewa-dewi yang hadir dalam upacara Piodalan atau hari jadi pura dengan diiringi oleh para pengawalnya yang salah satunya adalah Butha Kala Geni Rudra," ujar Bendesa atau Kepala Desa Adat Tuban, I Wayan Mendra, di Mangupura, Minggu malam.

Ia mengatakan, upacara tersebut menjadi suatu penyambutan untuk kedatangan Kala Geni Rudra yang dipercayai memiliki kesenangan bermain api.

"Harapannya, setelah disambut dengan perang api ini beliau dengan senang hati akan memberikan kemakmuran menghilangkan dosa dan kejahatan agar masyarakat desa kami bisa sejahtera dan aman dalam melaksanakan kehidupan di dunia," katanya.

Baca juga: Masyarakat Desa Adat Kapal Badung ikuti tradisi Perang Ketupat

Dalam tradisi tersebut, para pemuda desa terlebih dahulu melaksanakan persembahyangan dan diberi percikan air suci agar dalam melaksanakan ritual berada dalam kondisi yang suci lahir dan batin.

Persembahyangan tersebut juga dilakukan untuk memohon kepada Tuhan agar mereka selama mengikuti prosesi tradisi perang api berada dalam niatan yang tulus serta ikhlas.

Kemudian, mereka membakar tumpukan sabut kelapa kering yang selanjutnya dipukulkan ke pemuda yang berada di kelompok lain.

Baca juga: Hari Raya Kuningan, warga Munggu-Badung ikuti tradisi "Mekotek"

I Wayan Mendra menambahkan, meskipun kedua kelompok pemuda saling memukulkan sabut kelapa yang dibakar, namun tradisi itu dilakukan untuk meningkatkan rasa persaudaraan antarpemuda di kawasan desa adat.

"Kami juga berharap tradisi ini dapat membersihkan kekotoran dan aura negatif di wilayah desa dan tentunya akan memberikan kesenangan kepada Kala Geni Rudra," ujarnya.

Eka Wirya, seorang pemuda desa yang mengikuti tradisi tersebut, mengaku dirinya sangat senang bisa ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan tradisi tahunan itu.
"Memang namanya api pasti terasa panas jika terkena tubuh. Tapi saya tidak merasakan sakit dan senang bisa ikut melestarikan tradisi ini," katanya.

Baca juga: Desa tua Buleleng miliki tradisi lepasliarkan burung pemakan ulat
 

Pewarta: Naufal Fikri Yusuf

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2019