Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto memastikan titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah banyak berkurang seiring upaya pemadaman yang dilakukan secara menyeluruh.

"Saya sampaikan, rasio titik api itu sudah menurun, sudah banyak padam karena ada pemadaman yang total," katanya, di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu.

Meski demikian, ia mengakui asap sisa kebakaran masih muncul seiring kontur lahan gambut yang membuat kabut asap.

"Tetapi, kembali tadi. Lahan gambut yang terbakar itu, begitu dikasih air itu malah asapnya naik sehingga lahan seperti itu yang sekarang menimbulkan asap," katanya.

Arah asap pun tidak bisa ditebak, kata dia, sebab bergantung arah angin.

Baca juga: Wiranto: Dewan Pengawas akan semakin memperkuat KPK
Baca juga: Wiranto: Mantan Danjen Kopassus jadi tersangka senjata ilegal

Menurut dia, upaya yang lebih ditekankan sekarang ini sesuai instruksi Presiden Joko Widodo adalah pencegahan karena pemadaman lebih susah jika api sudah membesar.

"Artinya, kita simpulkan bahwa pemadaman akan lebih sulit kalau sudah ada titik api yang membesar. Maka utamanya adalah pencegahan. Pencegahan itu siapa yang bertanggung jawab? Pemerintah daerah," katanya.

Pemda, kata dia, memiliki infrastruktur, mulai tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota, hingga provinsi yang bisa dioptimalkan untuk mencegah terjadinya karhutla.

"Kalau ada titik api langsung dipadamkan. Jangan dibiarkan, baru setelah besar dilaporkan ke atas. Ini yang kemarin oleh Presiden ditekankan. Pencegahan pada saat awal api itu sudah ada," kata Wiranto.

Sebelumnya, Presiden Jokowi bersama sejumlah menteri, lembaga terkait, dan pemda menggelar rapat membahas kebakaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, Senin (16/9) malam.

Presiden Joko Widodo menegaskan pentingnya menjaga komitmen dari seluruh pihak untuk mencegah terjadinya karhutla agar tidak mengeluarkan biaya lebih banyak lagi.

Saat meninjau, Kepala negara sempat bertanya sejumlah hal kepada beberapa aparat yang bertugas memadamkan kebakaran di lokasi. Menurut mereka, api yang telah membesar membuat penanganan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Pewarta: Zuhdiar Laeis

Editor : I Komang Suparta


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2019