Pedukuhan Sidha Swasti menyelenggarakan upacara ritual "Pawintenan" atau pembersihan diri secara  massal yang melibatkan sedikitnya 350 orang umat Hindu dari Bali, Jawa dan Sumatera yang digelar di Pura Agung Besakih, Kabupaten Karangasem.

Menurut Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti didampingi Jro Suryadi di Besakih, Bali, Jumat, prosesi Pawintenan massal dengan peserta dari berbagai kalangan dan profesi. Dalam prosesi ritual  selain diadakan pawintenan bagi "pemangku anyar lanang wadun" (suami-istri), penyepuhan pemangku, juga ikut serta pewintenan sari bagi teruna-teruni yang belum pernah mewinten.

"Selain Pesraman Pemangku Siddha Swasti seluruh Bali, peserta pawintenan ini juga ada yang dari Jakarta, Surabaya, dan Sulawesi. Ada juga mahasiswa hingga balian," ujarnya.


Pandita Dukuh Celagi lebih lanjut mengatakan ritual ini digelar bertujuan untuk meningkatkan "Srada dan Bhakti" (bakti kepada Tuhan) menurut Tatwa (ajaran ketuhanan). Dari sisi finansial, diadakan secara massal untuk membantu meringankan biaya beban umat yang ikuti dalam pelaksanakan upacara tersebut.

"Sebagai umat Hindu di Bali meyakini, wajib hukumnya melaksanakan upacara 'Mawinten', ini berguna untuk penyucian diri secara lahir batin. Selanjutnya dapat diamalkan dan dijalankan dalam kehidupan diri sendiri maupun kepada orang lain yang memerlukannya," ucap Ida Pandita Dukuh Celagi menjelaskan.

Mengikuti ritual ini secara bersama-sama, kata Ida Pandita Dukuh, akan mampu membangun rasa kebersamaan, kekeluargaan, persahabatan, juga penghematan secara ekonomi dan terpenting adalah membangun kesetaraan.

Menurut Ida Pandita Dukuh Celagi, upacara ini juga sebagai penyucian kembali atau mengajegkan pemangku, suci dalam melayani umat. Hal ini dilakukan guna setiap melaksanakan aktifitas keagamaan harus suci baik lahir dan batin.


Ia menjelaskan, makna upacara sendiri tidak bisa dinilai dari besaran jumlahnya, puluhan juta dan ratusan juta bahkan hingga miliaran rupiah, hal itu malah terkesan jor-joran. Banyak jalan alternatif serta terobosan baru menghilangkan kesan jor-joran, salah satunya, ritual yang diadakan secara masal (digelar bersama-sama) dan itu lebih efektif untuk memupuk kebersamaan dan kesetaraan antar umat Hindu.

Ida Pandita Dukuh Celagi menambahkan, ke depan akan membuat acara massal lainnya, seperti "metatah massal dan sapuh leger" yang diupayakan gratis.

"Langkah awal kami dari pelayanan yang dimulai dengan pewintenan massal yang terbagi dalam tiga prosesi, seperti Pawintenan Bunga atau Sari, bisa dilakukan anak kecil bayi berusia tiga bulan sampai anak-anak. Pawintenan Saraswati harus dilakukan sebelum belajar sastra. Ketika ingin belajar jadi pemangku, undagi, sanging, serati atau memandikan mayat ada pewintenan dasaguna, serta ketika sudah melakukan serati atau balian dilakukan pewintenan ganapati," ujarnya.

Pemangku untuk kahyangan tiga wajib melakukan pewintenan Panca Rsi. Besar kecilnya pewintenan bisa dilihat dari rerajahannya. Pewintenan saraswati di muka, dasaguna sampai di pusar dan di punggung, ganapati sampai punggung juga tapi rajahannya berbeda. pawintenan panca rsi dari ubun-ubun sampai telapak kaki seluruh tubuh.

Kegiatan ritual pawintenan massal ini dipimpin rohaniawan Hindu, yakni Ida Bhagawan Viweka Dharma dari Monang-maning Denpasar, Ida Pedanda Bajra Shikara dari Klungkung, dan Ida Pandita Dukuh Celagi Dharma Kirti.

Pewarta: I Komang Suparta

Editor : Adi Lazuardi


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2019