Bedah buku menyemarakkan "Denpasar Book Fair 2019" pada hari kedua dengan narasumber dari pakar perbukuan dan sejumlah penulis di Aula SMP Negeri 4 Denpasar, Selasa (13/8) malam.

"Awalnya, menulis karena sakit hati, kalau kalian dikhianati sama siapapun, menulislah," kata Wulan Saraswati selaku penulis buku 'Luh' itu disela-sela pameran buku yang diagendakan selama tiga hari (12-14 Agustus) itu.

Selain Wulan, salah satu penulis buku, Ni Luh Putu Anjany Putri Suryaningsi, juga turut hadir memberikan pengalamannya selama menulis. "'Yang Muda Yang Berkarya' itu aku yang nulis sendiri dan udah masuk ke website Nyegara Gunung karena aku sudah lama sekali kerja sama dengan mereka," katanya.

Acara bedah buku di Aula SMP Negeri 4 Denpasar itu juga menampilkan narasumber yang ahli di bidang buku, yakni I Ketut Sugiarta. Selain itu juga ada narasumber dari komunitas Madyapadma Journalistic Park yaitu Bagus Perana.

Bedah buku dalam "Denpasar Book Fair 2019" yang diadakan oleh Pemerintah Kota Denpasar bersama komunitas Madyapadma Journalistic Park SMAN 3 Denpasar itu menjadi kegiatan "jeda" setelah serangkaian kegiatan perlombaan untuk tingkat SMP hingga universitas yang menguras tenaga dan pikiran.

Selain bedah buku dalam pameran di tengah meredupnya eksistensi buku, khususnya buku cetak, acara juga disemarakkan dengan 'teleconference' dengan anak Indonesia yang berada di Polandia dan warga negara berkebangsaan Jerman.

Baca juga: Disperindag adakan "Denpasar Book Fair 2019"


Pertemuan Ilmiah Pelajar
"Denpasar Bookfair 2019" juga disemarakkan dengan "Pertemuan Ilmiah Pelajar" dengan Tjokorda Istri Sintawati dan Agnes Perana Swari sebagai narasumber yang telah berkecimpung di dunia penelitian, serta dipandu Amara Vira sebagai moderator.

"Penelitian itu nggak cuma tentang IPA-IPA-an aja, tapi ada juga penelitian tentang IPS," kata perempuan dengan kacamata yang akrab disapa Tjok ti. Pada masyarakat awam, katanya, penelitian pastinya akan memikirkan bahwa penelitian itu hanya tentang membuat suatu produk inovasi baru.

Menurut dia, permasalahan di kehidupan sosial pun memerlukan suatu solusi yang bisa didapat dari sebuah penelitian sosial. "Banyak permasalahan sosial yang dapat dijadikan suatu penelitian, mulai dari masalah budaya, ekonomi, hingga geografis," katanya.

Pertemuan ilmiah pelajar ini dibagi menjadi dua sesi dengan sesi kedua yang menghadirkan tiga pembicara yakni, Putu Sudiarta, Kadek Putra Puja Wirawan, dan Eka Kusuma Wardhani. Sesi pertama bersifat pengalaman, sedangkan sesi kedua bersifat serius tentang HKI (Hak Kekayaan Intelektual) dan trend peneliti muda masa kini.


Baca juga: 55 mahasiswa dari 20 negara kunjungi Kawasan Pusaka Denpasar

Sebelumnya (12/8), Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Denpasar, Sri Utari, mengatakan pihaknya menyelenggarakan pameran buku yang mengusung tema "Mengisi Diri, Meneguhkan Indonesia" itu selama tiga hari pada 12-14 Agustus 2019.

"Kami harapkan kegiatan itu mampu menjadi media literasi sehingga dapat memberikan dukungan dalam membangun iklim perbukuan yang semarak sehingga ikut menggerakkan roda perekonomian, sekaligus mempertemukan antara penulis buku, penerbit, distributor, konsumen buku, pemegang kebijakan dan media massa. Juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang buku," katanya.

Adapun kegiatan yang diikuti 17 anjungan buku tersebut, di antaranya pameran buku dari penerbit indie dan penerbit mayor label, kompetisi literasi seperti lomba kording, reportase, karikatur, dan resensi buku yang melibatkan pelajar SMP, SMA, dan mahasiswa se-Provinsi Bali.

Ada juga kegiatan mendongeng, bedah buku, gerakan peduli dan berbagi buku, talkshow dan workshop terkait buku, pameran jurnalistik dan ilmiah, pertemuan pers pelajar se-Provinsi Bali, pertemuan ilmiah remaja se-Kota Denpasar, diskusi tele-conference, pemutaran film-film karya Madyapadma (BISMA), dan peluncuran buku karya pelajar dan mahasiswa.

Pewarta: Komang Suparta

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2019